Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Kinerja pasar keuangan domestik bergerak variatif pada perdagangan awal pekan, Senin (25/5). Di saat IHSG berhasil menguat dan kembali ke zona hijau, mata uang rupiah justru kembali terpuruk menghadapi tekanan Dolar AS.
Analis UISU Gunawan Benjamin menyatakan, IHSG ditutup menguat 0,72% di level 6.206,349 setelah sempat ditransaksikan di zona merah pada sesi perdagangan pertama. Sepanjang hari, IHSG bergerak dalam rentang 6.124 hingga 6.239.
IHSG ditopang oleh penguatan sejumlah emiten kakap, seperti BBCA, BMRI, BBRI, ASII, UNTR, hingga BRIS. Sayangnya, performa impresif pasar saham berbanding terbalik dengan kondisi mata uang Garuda.
"Kinerja mata uang rupiah justru ditutup melemah ke level Rp 17.730 per dolar AS, setelah sempat menyentuh level terburuknya di Rp 17.750 selama sesi perdagangan," ujarnya, di Medan.
Menurut dia, posisi rupiah masih belum tertolong meski ada sentimen positif dari global. Terpilihnya Gubernur Bank Sentral AS yang baru sebenarnya membuka peluang bagi kebijakan suku bunga acuan The Fed ke depan untuk bergerak lebih bernada longgar atau dovish.
Bukan hanya itu, pelemahan kinerja USD Index (indeks dolar AS) yang tertekan di kisaran level 98.99 selama sesi perdagangan di Asia pun belum mampu dimanfaatkan rupiah untuk menekan balik Dolar AS. Faktor eksternal lain seperti melemahnya harga minyak mentah dunia juga tidak memberi dampak signifikan untuk menopang kebangkitan rupiah.
Di sisi lain, pergerakan komoditas mencatat harga emas dunia ditransaksikan relatif stabil di kisaran level US$4.560 per ons troy, atau sekitar Rp2,6 juta per gram. Gunawan menilai, harga emas relatif tidak banyak berubah karena pelaku pasar masih bersikap wait and see jelang kesepakatan Iran dengan AS.
'Spekulasi yang berkembang di pasar saat ini masih menunjukkan ketidakpastian yang besar mengenai apakah AS dan Iran nantinya akan mencapai kesepakatan damai atau justru sebaliknya," kata dia.
