ANTARAsatu.com | MUARA ENIM - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menghadirkan playground dan landmark wisata di kawasan Danau Kemiri, Desa Pagardewa, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan.
Sarana wisata edukatif kreatif tersebut diserahterimakan oleh PGN kepada Pemerintah Desa Pagardewa pada Senin (12/1/2026). Sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) PGN.
"Playground dan landmark wisata Danau Kemiri menjadi bagian dari Program Inovasi Sosial Penguatan Desa Ekonomi Kreatif, Aman dan Setara (Pendekar Dewa)," ungkap Direktur Manajemen Risiko PGN Eri Surya Kelana dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu (14/1/2026).
Program tersebut, jelas Eri, dirancang untuk memperkuat ketahanan lingkungan, mendorong pemerataan akses dan inklusivitas bagi kelompok rentan. Sekaligus mengembangkan nilai tambah ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Pengembangan Danau Kemiri tidak hanya diarahkan sebagai destinasi rekreasi, tetapi juga sebagai pusat wisata edukatif dan ruang publik desa. Kawasan ini dilengkapi dengan beragam fasilitas.
Yakni aula, booth UMKM, playground, taman lalu lintas dan amphitheater. Ditambah lagi sumber air dengan kapasitas 22.500 meter kubik untuk mendukung ketahanan lingkungan.
Danau Kemiri kini dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Rumpun Kemiri. Sepanjang 2025, kawasan ini mencatat total kunjungan 6.554 orang dengan pendapatan wisata sebesar Rp92,48 juta.
Jumlah itu meningkat hingga 191% dibandingkan dengan periode sebelumnya. Adapun pengembangan Danau Kemiri
Dukungan PGN ini juga merupakan bagian dari pendekatan berkelanjutan Program Pendekar Dewa. Program ini dirancang dan dijalankan secara bertahap agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh masyarakat.
Menurut Eri, fase pertama pada 2021–2022 difokuskan pada pembangunan fondasi dan pemetaan kebutuhan masyarakat. Fase kedua pada 2023–2024 diarahkan pada pengembangan sistem dan penguatan kemandirian.
Sedangjan fase ketiga pada 2025 menitikberatkan pada penguatan keberlanjutan. Yakni melalui estafet pengelolaan kepada para pemangku kepentingan lokal.
"Program ini tidak hanya berorientasi pada bantuan jangka pendek, tetapi membangun sistem yang mampu meningkatkan ketahanan lingkungan dan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan," tutur Eri.
Pendekar Dewa dijalankan melalui tiga pilar utama, yakni Aman, Setara dan Ekonomi Kreatif. Pilar Aman berfokus pada peningkatan kepastian usaha dan pendapatan petani karet melalui Program Stasiun Lateks yang memangkas rantai penjualan dan membantu stabilisasi harga.
Program ini juga mencakup Sebakul Dewa sebagai sentra bibit unggul karet serta SITEGAS melalui pengembangan budidaya madu dan UMKM keluarga petani. Melalui pilar Aman, pendapatan petani karet pada 2025 tercatat mencapai Rp57,6 juta per tahun atau meningkat 33,3% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Adaoun pptimalisasi lahan replanting menghasilkan nilai Rp120 juta. Sebanyak 28 anggota keluarga petani, khususnya perempuan, kini memiliki sumber penghasilan mandiri dengan total nilai penjualan UMKM mencapai Rp11,38 juta.
Pilar Setara diarahkan untuk menjawab keterbatasan akses air bersih dan sanitasi di Desa Pagardewa. Sebelumnya, sebagian warga harus berjalan hingga satu kilometer untuk memperoleh air bersih.
PGN membangun lima fasilitas MCK bertenaga Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) serta membentuk kelompok Pendekar Talang sebagai pengelola air. Program tersebut memberikan akses air bersih bagi 28 kepala keluarga sekaligus mendukung upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan.
Hal ini menjadi penting mengingat wilayah Pagardewa memiliki risiko kebakaran hutan dan lahan yang tinggi pada musim kemarau. Secara sosial ekonomi, Desa Pagardewa selama ini bergantung pada sektor perkebunan karet dengan sekitar 70% masyarakat menggantungkan penghidupan pada komoditas tersebut.
Fluktuasi harga karet, keterbatasan akses air bersih serta ancaman kebakaran hutan dan lahan kerap menekan produktivitas. Termasuk kestabilan pendapatan warga, terutama pada kelompok rentan.
Eri menambahkan, keberadaan Danau Kemiri beserta sarana pendukungnya memiliki fungsi strategis yang melampaui aspek estetika dan rekreasi. Kawasan ini dirancang sebagai ruang publik terpadu yang mendukung wisata edukatif dan interaksi sosial.
Juga menjadi sumber air alternatif dalam mitigasi kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau. Ia berharap seluruh fasilitas dan program yang telah diserahterimakan dapat dijaga, dirawat dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Dengan begitu dapat memberikan manfaat jangka panjang dan berkelanjutan. Apresiasi terhadap Program Pendekar Dewa juga disampaikan Staf Ahli Pemerintahan, Hukum dan Politik Kabupaten Muara Enim Juli Jumatan Nuri.
Ia menilai program tersebut komprehensif dan berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat. Program PGN diyakini dirancang dan dijalankan dari hulu hingga hilir.
Mulai dari pemetaan permasalahan, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga penguatan kemandirian dan keberlanjutan pengelolaan oleh warga. Pendekatan ini mencerminkan komitmen PGN dalam menghadirkan program pemberdayaan yang tidak bersifat sesaat.
"Tstapi juga memberikan dampak nyata dan berkelanjutan," ujarnya.
