ANTARAsatu.com | JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat keberadaan awan tebal jenis Cumulonimbus (Cb) di wilayah Maros, Sulsel, saat pesawat ATR melakukan pendekatan menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Kondisi tersebut terpantau di wilayah sekitar jalur pendaratan meskipun cuaca di area bandara dinilai relatif stabil.
“Cuaca diperkirakan relatif stabil, namun masih terdapat awan Cb di wilayah pendekatan saat pendaratan yang perlu diwaspadai,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, di Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Faisal menjelaskan, informasi tersebut disampaikan berdasarkan analisis laporan meteorologi bandara dan pemantauan citra satelit. Namun dia menegaskan penjelasan ini bertujuan memberi gambaran objektif mengenai dinamika cuaca di sekitar wilayah Maros saat kejadian, tanpa mengaitkannya dengan penyebab teknis insiden penerbangan.
Berdasarkan laporan Meteorological Aerodrome Report (METAR) Bandara Sultan Hasanuddin pada pukul 12.30 WIB, kondisi cuaca di area bandara tercatat relatif stabil. Jarak pandang mencapai 9 kilometer, angin bertiup dari arah barat dengan kecepatan sekitar 13 knot serta suhu dan tekanan udara berada dalam kondisi normal.
Namun, di wilayah sekitar bandara, khususnya Maros, terpantau adanya awan Cumulonimbus yang perlu diwaspadai dalam fase pendekatan pendaratan. Faisal menyebut keberadaan awan tebal tersebut berpotensi memengaruhi fase pendekatan pesawat, meskipun tidak ditemukan gangguan cuaca signifikan tepat di atas bandara.
Pemantauan citra Satelit Himawari juga menunjukkan adanya awan tinggi dan awan konvektif di sekitar wilayah Maros. Suhu puncak awan yang terdeteksi mengindikasikan karakter awan Cumulonimbus yang sejalan dengan laporan cuaca penerbangan.
Kementerian Perhubungan menyatakan penyebab insiden pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang mengalami kecelakaan di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, tengah diinvestigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
