google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Isu Rencana Aneksasi Greenland oleh AS Kian Picu Ketidakpastian Pasar Global

Advertisement

Isu Rencana Aneksasi Greenland oleh AS Kian Picu Ketidakpastian Pasar Global

08 Januari 2026

 

Ilustrasi.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Isu rencana aneksasi Greenland oleh Amerika Serikat semakin memicu ketidakpastian di pasar global dan meningkatkan kehati-hatian pelaku pasar keuangan. Wacana geopolitik tersebut muncul setelah ketegangan internasional meningkat pasca-penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh otoritas AS.


Ketidakpastian geopolitik itu langsung memengaruhi sentimen pasar saham dan komoditas dunia. Pelaku pasar cenderung menahan transaksi dan mengalihkan perhatian pada aset aman di tengah risiko eskalasi politik lintas kawasan.


Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin menilai, isu Greenland menjadi faktor tambahan yang memperbesar volatilitas pasar global.


“Rencana aneksasi Greenland memperlebar risiko geopolitik dan membuat pasar keuangan global berada dalam fase defensif,” ujarnya, Kamis (8/1).


Di tengah tekanan geopolitik tersebut pasar juga merespons data ekonomi Amerika Serikat. Data serapan tenaga kerja nonpertanian AS pada Desember tercatat 41 ribu, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 49 ribu.


Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral AS atau The Fed masih memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter. Peluang pemangkasan suku bunga acuan kembali terbuka meski belum menjadi sentimen dominan.


Pada perdagangan sebelumnya, pasar saham AS ditutup terkoreksi. Bursa saham Asia bergerak mixed dengan kecenderungan melemah, mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar terhadap perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global.


Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan dibuka menguat di level 8.946. Namun, penguatan IHSG berlangsung terbatas di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.


Nilai tukar rupiah pada sesi perdagangan pagi melemah ke kisaran 16.790 per dolar AS. Pelaku pasar menanti rilis data cadangan devisa Bank Indonesia yang dinilai lebih berpengaruh terhadap pergerakan rupiah dibandingkan IHSG.


Di pasar komoditas, harga emas dunia bergerak stabil cenderung melemah di level 4.458 dolar AS per ons troy atau sekitar 2,41 juta rupiah per gram. Meski terkoreksi tipis, emas masih dipandang sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik global.