google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Sugiat Santoso: Tiga Ranah Pendidikan Kunci Bentuk Generasi Cerdas di Era Digital

Advertisement

Sugiat Santoso: Tiga Ranah Pendidikan Kunci Bentuk Generasi Cerdas di Era Digital

Editor: Dyan Putra
21 Oktober 2026

Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Dr. H. Sugiat Santoso, SE., SH.,M.SP, menguraikan tiga ranah pendidikan dalam kegiatan Literasi Digital Berbasis Moderasi yang digelar Andaliman Hall, Jalan Abdullah Lubis, Kota Medan, Selasa (20/10/2026).
ANTARASATU.COM | Medan – Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Dr. H. Sugiat Santoso, SE., SH.,M.SP menguraikan tiga ranah pendidikan yang penting dalam membentuk generasi muda yang cerdas, terampil, dan berkarakter di era digital.

Pernyataan itu disampaikan Sugiat Santoso selaku Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, dalam kegiatan Literasi Digital Berbasis Moderasi yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Utara, bertempat di Andaliman Hall, Jalan Abdullah Lubis, Kota Medan, Selasa (20/10/2026).

Sugiat Santoso yang juga Sekretaris DPD Partai Gerindra Sumut ini menjelaskan tiga ranah pendidikan tersebut meliputi afektif, kognitif, dan psikomotorik. Ranah afektif berkaitan dengan sikap dan karakter, kognitif berhubungan dengan pengetahuan, sedangkan psikomotorik mencakup keterampilan.

Menurutnya, ketiga ranah tersebut memiliki keterkaitan erat dengan literasi digital. Di tengah derasnya arus informasi di internet dan media sosial, generasi muda tidak cukup hanya memiliki kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga harus mampu memahami informasi, menilai kebenarannya, serta bersikap bijak ketika berinteraksi di ruang digital.

Sugiat merinci, ranah kognitif diperlukan agar generasi muda mampu berpikir kritis dan membedakan informasi yang benar dari hoaks maupun konten yang mengandung paham ekstremisme. Ranah afektif berperan dalam membentuk karakter, toleransi, dan sikap moderat agar tidak mudah terpengaruh oleh provokasi dan ujaran kebencian. Sementara ranah psikomotorik berkaitan dengan keterampilan memanfaatkan teknologi secara positif dan menghasilkan konten digital yang bermanfaat.

"Pembentukan mental dan karakter perlu menjadi perhatian dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan," tegas Sugiat.

Sugiat Santoso juga mencontohkan Jepang sebagai negara yang dikenal memiliki kedisiplinan tinggi serta budaya menghormati sesama dan negaranya.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam membangun generasi muda yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.

Sugiat menekankan bahwa literasi digital perlu diimbangi dengan penguatan moderasi. Kemampuan mengakses dan menyebarkan informasi harus disertai tanggung jawab, sikap kritis, serta penghormatan terhadap perbedaan.

"Dengan demikian, ruang digital dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat, memperkuat persatuan, dan mencegah penyebaran paham radikal yang berpotensi mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara," pungkasnya. ****