Ilustrasi.
ANTARASATU.COM | Medan - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak menguat pada perdagangan Selasa (20/10). Namun, penguatan ini dinilai belum mencerminkan perbaikan fundamental, melainkan sekadar technical rebound sesaat.
IHSG ditutup naik 5,65% ke level 5.278,888. Penguatan ini menyusul koreksi cukup dalam dua hari berturut-turut. Sepanjang sesi, indeks bergerak dalam rentang lebar, yakni 4.980 hingga 5.278.
IHSG sempat melemah di awal pembukaan, tetapi kemudian berbalik ke zona hijau. Di pasar valuta asing, rupiah ditutup menguat ke Rp17.980 per dolar AS.
Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai penguatan IHSG didorong sentimen teknikal setelah pasar jenuh jual (oversold).
"Ini lebih karena pasar sudah jenuh jual sehingga terjadi technical rebound," katanya, di Medan, Selasa (20/10) malam.
Menurut dia, kondisi serupa terjadi di pasar valuta asing. Rupiah menguat karena sudah jenuh jual sehingga membuka ruang pembalikan harga di tengah sentimen yang memburuk bagi pasar keuangan Asia secara umum.
"IHSG dan rupiah seolah punya jalan penguatannya sendiri," ujarnya.
Menurut Gunawan, penguatan ini merupakan respons atas tekanan jual yang terjadi sebelumnya. Sentimen pasar global, lanjutnya, sejauh ini belum berpengaruh besar terhadap kinerja pasar keuangan domestik.
Faktor yang ikut menopang adalah psikologis pasar yang sudah jenuh. Ditambah dengan kabar positif dari respons pemangku kebijakan dan Danantara terhadap rencana MSCI menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia.
Dia meyakini para pelaku pasar masih mencermati langkah pemerintah dalam memitigasi kemungkinan kebijakan MSCI. Gunawan menilai pasar keuangan dalam negeri pada dasarnya masih rapuh jika MSCI tidak mengubah rencananya.
Adapun harga emas dunia melemah pada perdagangan sore ke level US$4.121 per ons troy, atau sekitar Rp2,39 juta per gram. Tekanan terhadap emas menurut Gunawan terjadi di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia jenis Brent ke level US$111 per barel.
