google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Harga Emas Turun Lagi Tertekan Spekulasi Kenaikan Bunga AS

Advertisement

Harga Emas Turun Lagi Tertekan Spekulasi Kenaikan Bunga AS

23 September 2026


ANTARASATU.COM | Medan - Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu (23/9). Penurunan harga emas terjadi di tengah meningkatnya spekulasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) sebelum akhir tahun.

Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengatakan, harga emas dunia saat ini berada di level US$4.310 per ons troi. Jika dikonversikan ke dalam rupiah, harga emas berada di kisaran Rp2,49 juta per gram.

“Emas kembali mengalami tekanan karena pasar masih dibayangi oleh spekulasi kenaikan suku bunga acuan The Fed,” kata Gunawan, di Medan, Rabu (23/9).

Menurut dia, ekspektasi kenaikan suku bunga AS menjadi sentimen yang menekan harga emas. Pasalnya, kenaikan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan instrumen berbunga sehingga mengurangi minat terhadap emas yang tidak memberi imbal hasil bunga.

Tekanan terhadap emas juga terjadi ketika pasar keuangan global masih mencermati arah kebijakan bank sentral di berbagai negara. Semakin tinggi suku bunga acuan dinaikkan, kata Gunawan, semakin besar pula tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kondisi ini berpotensi mendorong negara-negara lain merespons dengan kebijakan serupa untuk menjaga stabilitas mata uang dan arus modal.

“Ini tentunya berpeluang direspons dengan kebijakan yang tidak jauh berbeda di banyak negara lain, sehingga bisa memicu perebutan likuiditas di pasar keuangan,” ujarnya.

Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75%. Keputusan itu menjadi salah satu sentimen positif bagi pasar saham Indonesia.

Adapun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,56% ke level 6.374,912 pada perdagangan Rabu. Nilai tukar rupiah juga ditutup menguat di level Rp17.795 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi meski tekanan terhadap mata uang Garuda meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Terutama setelah 9 September dan setelah adanya perubahan kebijakan suku bunga oleh The Fed.

Gunawan menilai pergerakan rupiah masih relatif terkendali. Pasalnya, rupiah belum kembali menyentuh level Rp18.000 per dolar AS seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

Menurut dia, kondisi ini menunjukkan bahwa BI masih mampu menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya tekanan pasar keuangan global. Namun, pasar keuangan domestik masih akan menghadapi tantangan apabila ekspektasi kenaikan suku bunga global kembali menguat.

Kondisi itu dapat memengaruhi aliran modal dan likuiditas di pasar keuangan. Sekaligus menjadi sentimen tambahan bagi pergerakan aset-aset investasi, termasuk emas.

"Arah kebijakan The Fed hingga akhir tahun masih menjadi salah satu faktor penting yang akan dicermati pelaku pasar dalam menentukan arah harga emas selanjutnya," pungkasnya.