Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 2,71% ke level 5.902,376 pada perdagangan Rabu (10/6), di tengah koreksi yang dialami mayoritas bursa saham Asia. Penguatan ini terjadi meski indeks kepercayaan konsumen dalam negeri turun ke level 120 pada Mei 2025.
Analis dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai penguatan IHSG kali ini lebih banyak ditopang oleh sentimen domestik. Dua faktor utama yang mendorong pemulihan adalah keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5%, serta kabar rencana sejumlah emiten melakukan pembelian kembali saham (buyback).
"Penguatan IHSG mengabaikan penurunan indeks kepercayaan konsumen. Melemahnya indeks tersebut sebenarnya menggambarkan kondisi belanja masyarakat ke depan, sekaligus bukti bahwa daya beli masih mengalami tekanan," ujar Gunawan, di Medan.
Selain itu, penguatan nilai tukar rupiah turut mendukung kinerja indeks. Rupiah ditutup menguat ke level Rp17.950 per dolar AS, diuntungkan oleh tekanan terhadap indeks dolar AS yang berada di bawah level 100, meski masih cukup solid di kisaran 99,9.
Di sisi lain, harga emas dunia justru terpuruk. Harga emas anjlok dari kisaran US$4.350 per ons troy menjadi sekitar US$4.178 per ons troy dalam 24 jam terakhir, atau setara Rp2,41 juta per gram, menyusul serangan Amerika Serikat ke Iran.
Gunawan menilai aksi militer tersebut justru memperburuk prospek pemulihan harga emas. Serangan AS ke Iran sekaligus bukti bahwa rencana damai kedua belah pihak masih jauh dari harapan.
"Prospek pemulihan harga emas kembali memudar seiring memburuknya tensi geopolitik dan kekhawatiran atas kenaikan laju inflasi," katanya.
