Aktivitas pasar tradisional Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumut.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Lonjakan harga berbagai komoditas pangan dan kebutuhan harian masyarakat diperkirakan akan mendorong inflasi Sumut pada Mei 2026. Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin memerkirakan inflasi bulanan Sumut pada Mei dapat mencapai lebih dari 0,6% (mtm).
Gunawan mengatakan, tekanan inflasi pada Mei didorong oleh kenaikan harga berbagai komoditas pangan yang menjadi konsumsi utama masyarakat. Beberapa di antaranya mencatat kenaikan yang cukup tinggi sepanjang bulan berjalan.
"Secara keseluruhan saya memperkirakan Sumut akan membukukan inflasi besar pada Mei ini. Secara bulanan inflasinya bisa mencapai 0,6% lebih month to month," ungkapnya, Minggu (31/5).
Dia menjelaskan, daging sapi mengalami kenaikan harga sekitar 3% secara bulanan. Sementara itu, bawang merah naik sekitar 10,5%, cabai merah meningkat dalam kisaran 37% hingga 47%, dan cabai rawit melonjak antara 38% hingga 53%.
Kenaikan harga juga terjadi pada tomat yang mencapai sekitar 62%, wortel sekitar 15%, kentang 2,3%, kacang panjang 30,7%, kangkung 18%, tempe 20% serta bayam sekitar 54%. Tidak hanya kelompok pangan, sejumlah kebutuhan harian lain juga mengalami kenaikan harga.
Komoditas tersebut antara lain pembalut wanita, kopi bubuk, sabun mandi cair, sampo, sabun cuci piring cair, popok bayi dan air minum kemasan. Kemudian pasta gigi, pengharum pakaian, deterjen, lontong, ikan teri, BBM nonsubsidi hingga gas LPG 12 kg.
Menurut Gunawan, kenaikan harga berbagai komoditas itu berpotensi mendorong laju inflasi yang lebih tinggi pada bulan ini. Meski demikian, terdapat beberapa komoditas yang mencatat penurunan harga.
Daging ayam ras turun sekitar 9%, gula pasir dan minyak goreng turun sekitar 1%, ikan dencis turun sekitar 5%, emas perhiasan 6% serta ikan tongkol dan ikan gembung masing-masing sekitar 17%. Kemudian kelapa turun sekitar 7%-8%, jeruk manis 5,2%, sawi hijau 9%, telur ayam sekitar 3%, serta tarif tiket pesawat yang juga mengalami penurunan.
Gunawan menilai kenaikan inflasi di Sumut sebenarnya telah diproyeksikan sejak beberapa waktu lalu. Menurut dia, tekanan inflasi masih dipengaruhi oleh kenaikan harga yang diatur pemerintah, kenaikan harga plastik serta dampak pelemahan nilai tukar rupiah.
Dia memerkirakan tekanan inflasi masih berpeluang berlanjut. Sejumlah faktor yang berpotensi menjadi pemicu antara lain pelemahan rupiah, ketidakpastian geopolitik global, kenaikan harga minyak mentah dunia, peningkatan biaya logistik, potensi penyesuaian kembali harga BBM hingga kenaikan biaya produksi yang mendorong harga pokok produksi.
Karena itu, menurut dia ibutuhkan mitigasi yang serius untuk menghadapi tekanan inflasi pada Juni dan beberapa bulan berikutnya. Pemerintah perlu menjaga sisi pasokan untuk meredam gejolak harga.
Penguatan pasokan menjadi langkah penting karena pemerintah akan menghadapi tantangan dalam mengendalikan faktor lain. Seperti kenaikan biaya bahan baku, biaya logistik serta risiko gangguan cuaca akibat fenomena El Nino.
Selain itu, Gunawan mengingatkan potensi munculnya disparitas harga yang semakin lebar antara Sumut dan daerah lain. Hal itu dapat menjadi faktor tambahan yang mendorong kenaikan harga di wilayah tersebut.
"Kondisi pasokan harus diselamatkan karena itu menjadi salah satu instrumen yang masih bisa dikendalikan untuk menahan tekanan inflasi ke depan," pungkasnya.
