Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Pergerakan pasar keuangan pada perdagangan Rabu (20/5) diwarnai oleh volatilitas yang sangat tinggi. Di tengah tekanan yang melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah berhasil menguat, sementara harga emas diproyeksikan memiliki peluang untuk bangkit (rebound) dalam waktu dekat.
Analis dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mencatat, IHSG sempat menguat hingga menyentuh level 6.459 sebelum Presiden RI memberikan pidatonya. Namun, indeks berbalik arah tak lama setelahnya dan sempat anjlok ke titik terendah di level 6.215 selama sesi perdagangan.
"IHSG pada akhirnya ditutup melemah 0,82% di level 6.318,5. Pelemahan IHSG ini tidak jauh berbeda dengan tren penurunan yang terjadi pada mayoritas bursa saham di kawasan Asia," ujarnya, di Medan.
Menariknya, pelemahan IHSG terjadi bertepatan dengan menguatnya nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda mendapat tenaga baru setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin (bps).
Rupiah sukses ditutup menguat di level Rp17.600 per dolar AS setelah sebelumnya sempat terpuruk di level Rp17.740 per dolar AS. Dengan sentimen ini, rupiah dinilai masih berpeluang untuk melanjutkan penguatan.
Gunawan menjelaskan, rupiah dan IHSG sama-sama ditransaksikan dalam rentang harga yang cukup lebar akibat derasnya sentimen dari dalam negeri. Khususnya pidato Presiden dan kebijakan moneter dari Bank Indonesia.
"Namun khusus untuk pasar saham, kenaikan BI Rate justru menjadi sentimen negatif. Pasalnya, kenaikan suku bunga acuan berarti akan terjadi kenaikan pada komponen beban biaya emiten," ungkap dia.
Di sisi lain, dari pasar komoditas, harga emas dunia ditransaksikan melemah di kisaran level US$4.477 per ons troi, atau berada di kisaran harga Rp2,54 juta per gram. Harga logam mulia kembali mengalami tekanan di tengah lonjakan tinggi pada imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun yang berada di level 4,643% sejauh ini.
Meski tengah tertekan, Gunawan melihat adanya potensi pembalikan arah. Secara teknikal, emas berpeluang mengalami rebound dalam jangka pendek.
"Harga emas berpeluang untuk kembali menguat dan ditransaksikan di atas level US$4.500 per ons troi nantinya," pungkas Gunawan.
