ANTARAsatu.com | MEDAN - Nasib nahas menimpa Guntur Sugoro. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai satuan pengamanan (satpam) di salah satu dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kota Medan ini harus terbaring lemah di Rumah Sakit Dr. Pirngadi Medan.
Sudah sembilan hari berlalu sejak ia menjadi korban kebrutalan komplotan begal. Sebutir peluru senapan angin masih bersarang di dalam tubuhnya karena terkendala biaya operasi.
Peristiwa jahanam itu menimpa Guntur pada Senin (11/5) malam, di kawasan Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Saat itu, ia sedang berkendara sendirian menuju rumah salah seorang rekannya.
Di tengah jalan sepi, firasatnya mulai tidak enak ketika dua sepeda motor yang dikendarai lima orang tidak dikenal tiba-tiba memepet dan memaksa dirinya untuk menepi.
"Pas sudah masuk jalan tumbukan, langsung distop dan dipepet sama dua kereta (sepeda motor), lima orang, disuruh berhenti. Tapi, saya merasa saya ini pasti mau dibegal," kenang Guntur, Selasa (19/5).
Enggan menyerahkan motor yang menjadi ladang mata pencahariannya begitu saja, Guntur memilih nekat. Ia menarik tuas gas sedalam-dalamnya untuk melarikan diri.
Keputusan itu dibayar mahal. Komplotan pelaku yang kalap langsung mengayunkan senjata tajam ke arah punggungnya dari belakang. Meski merasakan perih yang luar biasa akibat sabetan sajam, Guntur tetap fokus memacu kendaraannya.
Ketangguhan Guntur justru membuat para pelaku kian beringas. Salah seorang pelaku kemudian mencabut senjata yang diduga kuat merupakan senapan angin kaliber besar.
"Mungkin pas dibacok ditengok (dilihat) enggak luka, dan dia bilang, ‘Eh, enggak apa-apa dia, bang. Tembak dia, Bang’," ujar Guntur menirukan teriakan bengis pelaku malam itu.
Lalu sebutir peluru bersarang telak di punggung belakangnya. Sambil menahan kombinasi rasa sakit akibat luka bacok dan luka tembak, Guntur terus tancap gas hingga berhasil lolos dari kepungan dan menyelamatkan sepeda motornya.
Ironisnya, perjuangan Guntur menyelamatkan hartanya justru berujung pada penderitaan panjang yang tak kunjung usai. Sejak dilarikan ke RS Pirngadi Medan beberapa hari lalu, tindakan medis yang diterimanya belum maksimal.
Peluru di punggungnya belum diangkat dan hanya dibalut perban seadanya.
Guntur mengaku tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar ongkos operasi pengangkatan proyektil.
Gaji pas-pasan sebagai satpam baru di dapur MBG jelas jauh dari kata cukup untuk menutup biaya rumah sakit secara mandiri.
"Saya penjaga MBG. Baru dua bulanan gitu, lah. Peluru belum diambil, cuma diperban gitu aja," keluhnya.
Kondisinya kian pelik karena jaminan kesehatan nasional miliknya terkendala aturan administratif.
"Ngak berlaku BPJS juga kan (karena korban tindak kriminal), makanya ini lagi buat surat miskin," sambung Guntur.
Kini, pria berusia 41 tahun itu hanya bisa berharap pada mukjizat dan uluran tangan para dermawan sembari menunggu rampungnya pengurusan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari pihak kelurahan. Di atas ranjang rumah sakit, Guntur kini harus bertaruh dengan waktu, melawan ancaman infeksi dari sebutir peluru yang sewaktu-waktu bisa mengancam nyawanya.
Sumber: tajukrakyat.com
