google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Mahasiswa Univa Sulap Lokasi Banjir Jadi Kebun Microgreen di Sergai

Advertisement

Mahasiswa Univa Sulap Lokasi Banjir Jadi Kebun Microgreen di Sergai

09 April 2026

 


ANTARAsatu.com | SERDANG BEDAGAI - Wajah Desa Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumut, perlahan mulai berubah. Wilayah yang kerap menjadi langganan banjir tahunan akibat pendangkalan sungai ini tidak lagi hanya menyisakan lumpur dan duka. Melalui tangan 50 mahasiswa Universitas Al Washliyah (Univa) Medan, sisa-sisa bencana itu kini bertransformasi menjadi pusat ketahanan pangan baru.

Lewat Program Mahasiswa Berdampak dalam Dampak Bencana di Sumatera Tahun 2026, para mahasiswa lintas studi ini menghadirkan solusi konkret, yakni budidaya microgreen. Teknologi pertanian lahan sempit ini dipilih bukan tanpa alasan.

Di Dusun I dan III yang tanahnya sering rusak akibat genangan air, microgreen menjadi tumpuan harapan bagi warga untuk kembali berdaya secara ekonomi tanpa butuh lahan luas.

"Kami ingin kehadiran mahasiswa tidak hanya membawa bantuan fisik, tetapi juga pendampingan edukasi agar masyarakat bangkit mandiri," ujar Muhlizar, Ketua Tim Dosen Lapangan, saat meninjau lokasi program yang berlangsung sejak akhir Januari hingga Maret 2026 tersebut.

Selama 160 Jam Kerja Efektif Mahasiswa (JKEM), para peserta program yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) membaur total dengan warga. Mereka tidak hanya mengajarkan cara tanam, tapi juga mengimplementasikan teknologi biochar untuk memulihkan kualitas tanah yang jenuh akibat banjir.

Efeknya dirasakan langsung oleh perangkat desa. Johansyah Putra, Kepala Dusun III, mengaku sempat skeptis dengan kehadiran mahasiswa di tengah situasi Sumatera yang sedang berat.

"Sejujurnya, awalnya kami mengira mereka hanya 'pemanis' di lapangan. Ternyata saya salah besar. Mereka bukan cuma bawa teori, tapi solusi membumi. Mereka bantu rapikan sistem logistik lewat produk sederhana buatan mereka sendiri," tutur Johansyah.

Dosen Anggota Syarifa Mayly Boelian Dachban menjelaskan, pendekatan yang diambil adalah Ekonomi Hijau. Selain microgreen, mahasiswa juga membekali warga dengan literasi hukum lingkungan dan kebencanaan.

Tujuannya jelasm, membangun kemandirian jangka panjang.
Univa Medan sendiri menjadi satu dari sedikit perguruan tinggi swasta (PTS) yang lolos seleksi ketat program nasional ini.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara akademisi dan masyarakat desa mampu menciptakan suntikan energi baru bagi warga yang tengah berjuang pulih dari dampak bencana.

Kini, warga Desa Sei Rampah punya cara baru untuk melawan trauma banjir. Yakni dengan merawat tunas-tunas hijau yang tumbuh subur di teras rumah mereka sendiri.