Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Di tengah fluktuasi pasar global yang kian dinamis, harga emas dunia kembali menunjukkan taringnya. Logam mulia ditransaksikan menguat hingga menyentuh level US$ 4.740 per ons troy pada penutupan perdagangan Kamis (9/4/2026).
Meski tak bergerak jauh dari posisi penutupan sebelumnya, tren kenaikan ini menjadi sorotan tajam para investor.
Menariknya, reli harga emas kali ini justru tampak "jalan sendiri".
"Emas seperti mengabaikan pergerakan harga minyak mentah dunia yang juga sedang menanjak," ungkap Gunawan Benjamin, Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara, di Medan.
Karakter emas yang belakangan sangat volatil, kata Gunawan, membuatnya kerap memutus korelasi tradisional dengan komoditas energi tersebut.
Kondisi kontradiktif justru dialami oleh mata uang Garuda. Kurs rupiah ditutup melemah di level 17.080 per dolar AS, nyaris menghantam batas psikologis baru di angka 17.100.
Pelemahan ini terbilang anomali. Pasalnya, dolar AS sebenarnya tengah berada dalam posisi tidak diuntungkan. Yang mana USD Index merosot ke level 99 dan imbal hasil US Treasury 10 tahun turun ke kisaran 4,28%.
Namun, pasar tampaknya lebih bereaksi negatif terhadap rilis Fed Minutes. Bank Sentral AS memberi sinyal kuat akan kembali mengerek suku bunga acuan pada tahun 2026 ini.
Menurut Gunawan, keresahan pasar semakin diperparah oleh pudarnya kepercayaan terhadap kesepakatan gencatan senjata di wilayah konflik. Jalur distribusi minyak yang belum stabil membuat pelaku pasar cenderung bersikap defensif.
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan resiliensi yang mengejutkan. Sempat terpuruk hingga ke level 7.191 di sesi pagi akibat terseret memburuknya mayoritas bursa saham di Asia, IHSG akhirnya mampu "balik badan".
Indeks kebanggaan Indonesia ini ditutup menguat 0,39% di level 7.307,589. Lonjakan harga minyak mentah dunia yang kembali mendekati US$ 100 per barel dinilai menjadi katalis utama yang memompa tenaga baru bagi IHSG di tengah sentimen negatif regional.
