google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Emas Tertekan Fluktuasi Minyak Dunia, Intip Prediksi Harganya

Advertisement

Emas Tertekan Fluktuasi Minyak Dunia, Intip Prediksi Harganya

25 Maret 2026

 

Ilustrasi.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Gejolak geopolitik global kembali mengguncang pasar komoditas. Harga emas yang sempat perkasa kini berada di bawah tekanan hebat seiring fluktuasi harga minyak mentah dunia.


Berdasarkan pantauan pasar, Rabu (25/3/2026), emas kini ditransaksikan di kisaran Rp2,5 juta per gram. Sementara di pasar global bertengger di level $4.550 per ons troy.


Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, tekanan ini merupakan fenomena jangka pendek yang lumrah saat tensi perang meningkat. Ia mencontohkan pola serupa yang terjadi pada awal invasi Rusia ke Ukraina.


"Jika berkaca pada awal perang Rusia-Ukraina, emas sempat terpuruk dari $2.000 ke level $1.600-an per ons troy pada September 2022 karena kekhawatiran inflasi. Namun, setelahnya harga justru berbalik arah (rebound) hingga konflik Iran-Israel pecah," ujarnya, di Medan.


Menurut Gunawan, pasar saat ini sedang berada dalam fase penyesuaian. Saat perang berkecamuk, kepercayaan investor tidak hilang, melainkan bergeser dari satu instrumen safe haven ke instrumen lain.


Emas tetap menjadi aset yang paling diincar ketika kepercayaan terhadap nilai mata uang terusik. Baik karena inflasi maupun ketidakpastian politik.


"Ada masa di mana pasar akan mengalami titik jenuh. Saat itulah emas bisa berbalik arah meskipun perang masih terus berlangsung," tambahnya.


Harga emas Rabu sore sedikit terkoreksi ke level $4.554 per ons troy akibat kenaikan harga minyak Brent yang mendekati $100 per barel. Namun Gunawan tetap optimistis pada prospek emas jangka menengah dan panjang.


Berbeda dengan emas yang bergerak volatil, pasar modal Indonesia justru menunjukkan taringnya. IHSG ditutup menguat signifikan 2,75% ke level 7.302,121 pada perdagangan Rabu. Penguatan ini dimotori oleh sejumlah saham blue chip seperti ASII, TLKM, hingga duo perbankan raksasa BMRI dan BBRI.


Sentimen positif ini juga didukung oleh mata uang Garuda yang menguat ke level Rp16.905 per dolar AS. Dipicu oleh kabar de-eskalasi agresi Amerika Serikat dan Israel ke Iran.


Di tengah ketidakpastian ini, Gunawan Benjamin tetap merekomendasikan emas sebagai instrumen lindung nilai yang mumpuni. Dalam jangka pendek nilainya memang cukup volatile, tetapi untuk jangka menengah hingga panjang, emas masih dipercaya sebagai safe haven utama.


"Saat pasar khawatir akan penurunan nilai portofolio surat berharga akibat perang, emas akan kembali diburu," ujarnya.


Investor kini disarankan memantau ketat pidato Presiden AS dan data klaim pengangguran yang akan dirilis akhir pekan ini. Sebab dinamika tersebut diprediksi akan menjadi kompas pergerakan pasar selanjutnya.