google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 INFLASI SUMUT: Krisis Cabai Merah Menghantui akibat Ledakan Pengiriman ke Luar

Advertisement

INFLASI SUMUT: Krisis Cabai Merah Menghantui akibat Ledakan Pengiriman ke Luar

03 Februari 2026

 

Perdagangan cabai merah di pasar tradisional Delitua, Deliserdang, Sumut.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Ancaman inflasi Februari membayangi Sumatra Utara seiring potensi derasnya arus cabai ke luar daerah. Tekanan harga muncul setelah deflasi Januari dinilai bersifat sementara dan dipicu koreksi pasca lonjakan harga Desember.


Pada Januari 2026, Sumut mencatat deflasi sebesar 0,75% secara bulanan atau month to month (m-t-m). Deflasi terdalam terjadi di Kota Gunungsitoli, Nias, sebesar 2,37% m-t-m sehingga Sumut pada Februari 2026 masih berpeluang kembali mencetak deflasi, terutama di wilayah tersebut.


“Cabai merah sudah menyumbang inflasi di awal Februari dan tekanan akan semakin besar jika pasokan lokal berkurang akibat tingginya permintaan dari luar Sumut,” kata Gunawan Benjamin, Ekonom Universitas Islam Sumatra Utara (UISU), di Medan, Selasa (3/2).


Tekanan harga pada Februari 2026 diproyeksikan berbalik ke inflasi meski masih dalam rentang yang terbatas. Komoditas yang berpotensi memicu inflasi meliputi cabai merah, cabai hijau, minyak goreng curah, daging sapi, serta kemungkinan gula pasir curah.


Namun sejumlah komoditas diperkirakan akan menahan laju inflasi bahkan memicu deflasi. Komoditas tersebut antara lain cabai rawit, harga emas, serta beberapa komoditas hortikultura dari kelompok sayur-sayuran.


Pemerintah daerah di Sumut dinilai perlu memberi perhatian khusus pada pergerakan harga cabai merah dalam waktu dekat. Selain sudah berkontribusi terhadap inflasi di awal Februari, potensi distribusi pasokan dalam waktu dekat juga berpeluang mendorong kenaikan harga.


Tekanan harga cabai merah diperkirakan semakin kuat akibat tingginya permintaan dari luar wilayah Sumut. Terlebih, produksi cabai di Sumut diproyeksikan menghadapi penurunan yang cukup signifikan sehingga pembentukan harga akan sangat bergantung pada harga cabai dari luar daerah, terutama pulau Jawa.


Deflasi yang terjadi pada Januari 2026 dinilai lebih disebabkan oleh lonjakan harga yang signifikan pada Desember 2025. Kondisi tersebut membuat harga berbalik arah dan menciptakan deflasi dalam angka yang relatif besar.


Khusus untuk Kota Gunungsitoli, tren deflasi diproyeksikan masih berlanjut pada Februari 2026. Namun secara umum, peluang inflasi di wilayah Sumut

tetap terbuka meski masih akan terkendali.


Wilayah Deliserdang, Labuhanbatu, serta kota-kota besar di bagian timur Sumut, selain Kota Medan, diperkirakan berpeluang mencetak inflasi lebih tinggi. Tekanan harga di wilayah tersebut diproyeksikan melampaui wilayah Indeks Harga Konsumen lainnya di Sumut.