google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Awal 2026, Harga Pangan di Sumut Naik akibat Libur Panjang

Advertisement

Awal 2026, Harga Pangan di Sumut Naik akibat Libur Panjang

02 Januari 2026

 

Aktivitas perdagangan di Pasar Sukaramai, Medan, Jumat (2/1).


ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga sejumlah komoditas pangan utama di Sumut mengalami kenaikan pada awal 2026 seiring dampak libur panjang tahun baru. Kenaikan terjadi pada cabai, sayuran, hingga bawang, dengan kondisi pasar yang belum sepenuhnya kembali normal.


Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Kota Medan mencatat harga cabai merah rata-rata naik dari Rp36.600 per kilogram pada 31 Desember 2025 menjadi Rp41.900 per kilogram pada Jumat (2/1). Kenaikan juga terjadi pada cabai rawit yang bergerak dari Rp70.600 menjadi Rp80.000 per kilogram, bahkan mencapai sekitar Rp90.000 per kilogram di Pasar Sukaramai Medan.


Harga cabai hijau turut meningkat berdasarkan hasil pengamatan lapangan. Komoditas tersebut naik dari kisaran Rp22.000 per kilogram pada akhir Desember menjadi sekitar Rp28.000 hingga Rp40.000 per kilogram pada awal Januari.


Kenaikan juga merata pada sejumlah sayuran lainnya. Harga kol naik dari sekitar Rp4.000 menjadi Rp5.000 per kilogram. Buncis bergerak naik dari kisaran Rp22.000 menjadi Rp24.000 per kilogram. Sementara itu, harga tomat meningkat dari kisaran Rp6.000 menjadi sekitar Rp9.000 per kilogram.


Komoditas bawang tidak luput dari tren kenaikan. Harga bawang putih terpantau naik ke kisaran Rp33.000 per kilogram. Harga bawang merah berada di kisaran Rp40.000 per kilogram, naik sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 dibandingkan posisi harga akhir tahun lalu.


Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin menilai kenaikan harga pangan pada awal tahun dipicu oleh penurunan pasokan akibat libur panjang tahun baru.


"Banyak pedagang besar dan petani memilih libur sehingga pasokan ke pasar berkurang," ujarnya di Medan.


Dia menjelaskan, aktivitas di pasar tradisional juga belum sepenuhnya pulih, dengan masih ditemukannya sejumlah lapak pedagang yang tutup. Gunawan memproyeksikan titik keseimbangan harga akan kembali terbentuk pada awal pekan seiring normalnya aktivitas pasar.


Menurut dia, kondisi ini bersifat sementara dan tidak memerlukan kepanikan masyarakat. Harga cenderung akan turun seiring pulihnya pasokan dan permintaan sehingga tidak ada alasan untuk panic buying.