google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Ancaman Banjir dan Gagal Panen Picu Potensi Lonjakan Harga Jelang Ramadan dan Idulfitri di Sumut

Advertisement

Ancaman Banjir dan Gagal Panen Picu Potensi Lonjakan Harga Jelang Ramadan dan Idulfitri di Sumut

11 Januari 2026

 


ANTARAsatu.com | MEDAN - Ancaman banjir dan gagal panen membayangi stabilitas harga pangan di Sumut menjelang Ramadan dan Idulfitri meski harga sejumlah kebutuhan pokok sempat turun pada awal Januari. Kondisi ini dinilai berpotensi memicu lonjakan harga dalam waktu dekat akibat gangguan pasokan dari sentra produksi.


Pada akhir pekan pertama Januari, harga komoditas hortikultura tercatat mengalami koreksi. Cabai merah ditransaksikan di kisaran Rp19.000 hingga Rp23.000 per kilogram, turun dari posisi sebelumnya di kisaran Rp30.000 per kilogram.


Harga cabai rawit juga turun ke kisaran Rp60.000 per kilogram setelah sempat menyentuh Rp75.000 per kilogram. Cabai hijau tercatat turun dari Rp23.000 menjadi sekitar Rp21.000 per kilogram.


Sementara bawang merah merosot signifikan dari kisaran Rp38.000 menjadi Rp28.000 hingga Rp31.000 per kilogram. Dari seluruh komoditas tersebut, harga cabai rawit masih tergolong tinggi.


Adapun bawang merah telah berada di level harga keekonomian. Namun penurunan harga itu lebih dinilai banyak dipicu oleh peningkatan pasokan di tingkat pasar, bukan karena penguatan daya beli masyarakat.


"Kondisi ini membuka peluang terjadinya deflasi di Sumatra Utara pada Januari, setelah lonjakan inflasi cukup tajam pada Desember lalu," ungkap Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin, di Medan, Minggu (11/1).


Dia menilai tekanan justru bergeser ke sisi produsen. Harga cabai saat ini sudah berada di bawah harga keekonomian sehingga petani cabai hijau dan cabai merah menjualnya dengan kondisi merugi.


Menurut Gunawan, potensi kenaikan harga diperkirakan mulai terjadi pada Februari, bertepatan dengan Ramadan dan Idulfitri. Namun kenaikan tersebut bukan semata didorong lonjakan permintaan.


Namun karena koreksi pasokan akibat banjir yang memaksa banyak petani menanam ulang tanaman hortikultura. Ancaman gagal panen pun dinilai kian nyata.


Karena itu pemerintah daerah akan dihadapkan lagi pada tantangan pengendalian harga pangan jelang Ramadan dan Idulfitri. Yang mana komoditas hortikultura menjafi yang paling rentan mengalami kenaikan harga.


Sementara itu, harga daging ayam, telur ayam, dan daging sapi diproyeksikan tetap bertahan mahal. Namun beras diperkirakan relatif stabil seiring masuknya musim panen raya.


"Meski pemulihan sektor pertanian masih bergantung pada perbaikan lahan pascabanjir dan keberlanjutan modal petani," pungkas Gunawan.