google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Polisi Buru Geng Begal "Penguasa" Medan Tembung dan Sekitarnya

Advertisement

Polisi Buru Geng Begal "Penguasa" Medan Tembung dan Sekitarnya

20 Oktober 2025

 

Pasukan Brimob.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Polrestabes Medan memburu geng begal yang disebut menguasai kawasan Medan Tembung dan sekitarnya. Kapolrestabes Medan Kombes Jean Calvijn Simanjuntak menegaskan pemberantasan begal menjadi prioritas utama jajaraannya.


"Ada tiga wilayah hukum Polsek yang paling rawan kejahatan jalanan, khususnya aksi begal. Paling tinggi terjadi di wilayah hukum Medan Tembung, dan ini menjadi atensi," ungkap Kapolrestabes Medan Kombes Jean Calvijn Simannuntak, Senin (20/10).


Calvijn menyebut tingkat kejahatan begal di Kecamatan Medan Tembung paling tinggi dibandingkan dengan wilayah lain di Kota Medan. Kondisi itu membuat kepolisian menyiapkan operasi khusus di kawasan tersebut.


Dia sudah memerintahkan jajarannya agar tidak menunggu lama jika mendapat laporan dari masyarakat. Anggota diminta segera turun ke lapangan untuk menangkap para pelaku begal yang meresahkan warga.


Kapolrestabes pun memberi tanggung jawab penuh kepada Kapolsek Medan Tembung untuk menuntaskan kasus begal. Operasi itu akan digelar bersama Kasat Reskrim dan didukung langsung Polrestabes Medan.


Dalam delapan hari terakhir, Polrestabes Medan mengungkap empat kasus begal dengan enam tersangka. Jumlah itu bagian dari total 61 kasus kejahatan yang berhasil dibongkar selama sepekan.


Calvijn menjelaskan, para pelaku begal menggunakan tiga modus utama dalam beraksi. Pertama, menakut-nakuti korban, kedua merampas barang secara paksa dan ketiga, menggunakan senjata tajam untuk melukai korban.


Modus terakhir disebut paling berbahaya karena pelaku tidak segan melukai korban yang melawan. Kondisi itu membuat kawasan Medan Tembung dan sekitarnya kini mendapat perhatian ekstra dari aparat.


Calvijn melanjutkan, banyak pelaku begal yang menggunakan narkoba sebelum beraksi di jalanan. Konsumsi sabu paket hemat diduga menjadi pemicu meningkatnya kejahatan jalanan di wilayah tersebut.


"Peredaran narkoba paket hemat juga harus diantisipasi. Sebab para pelaku kejahatan ini umumnya mengkonsumsi sabu sebelum beraksi," ujarnya.


Untuk memperkuat pengawasan, Kapolrestabes juga sudah meminta jajaran Polsek berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Pemasangan CCTV di titik rawan diusulkan menjadi langkah pencegahan tambahan.


Calvijn juga telah memerintahkan operasi gabungan lintas unit untuk membantu Polsek Medan Tembung. Strategi ini disebut sebagai langkah "keroyokan" agar jaringan begal segera terungkap.


Selain begal, Polrestabes juga menyorot dua kejahatan lain, yakni "rayap besi/kayu" dan penyalahgunaan narkoba. Dua tindak pidana itu turut memberi kontribusi besar terhadap gangguan keamanan di Medan.


Kasus rayap besi dan kayu tercatat 26 perkara dengan 42 tersangka, sementara kasus narkoba mencapai 29 perkara dengan 36 tersangka. Barang curian dijual ke gudang butut dan panglong dengan harga Rp4.000 hingga Rp6.000 per kilogram.


Kapolrestabes mengingatkan pemilik panglong dan gudang butut agar hanya memperdagangkan barang legal. Tempat yang terbukti menampung hasil curian akan ditindak tanpa kompromi.


"Jika nanti penadah tidak bisa membuktikan barang yang dijualnya adalah barang legal, maka akan kita tindak," tegasnya.