ANTARASATU.COM | Deli Serdang - Mantan Narapidana Teroris (Napiter) yang kini menjadi Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Glugur Rimbun, Deli Serdang, Ustadz Khairul Ghazali mengecam tindakan penggeledahan Asrama Putri Pondok Pesantren Ma'had Hamalatul Qur'an di Sukoharjo, Jawa Tengah pada 27 Oktober 2026.
Ustadz Khairul menilai penangkapan atau tindakan Kepolisian yang dilakukan dengan pengerahan kekuatan berlebihan di lingkungan lembaga pendidikan, khususnya pesantren putri, merupakan bentuk cederanya pendekatan humanis di tubuh Polri.
"Tindakan semacam ini mencerminkan sikap arogan yang jauh dari rasa empati dan semangat mengayomi masyarakat. Penggerebekan di lingkungan pesantren putri di Sukoharjo merupakan bentuk penegakan hukum yang kehilangan sisi kemanusiaan dan keadaban," kata Ustadz Khairul Ghazali, kepada wartawan saat ditemui, Minggu (1/11/2026).
Menurutnya, pengerahan pendekatan represif di ruang pendidikan dan tempat pembinaan moral anak-anak bangsa adalah wujud nyata arogansi institusi yang melenceng dari prinsip Kepolisian milik masyarakat, santun, dan menghormati nilai-nilai kearifan lokal.
"Langkah tersebut menabrak komitmen Kapolri yang pernah menyatakan keinginan agar Polri tidak ditakuti oleh anak-anak dan hadir sebagai pengayom yang dicintai warga. Realita di lapangan justru bertolak belakang, aksi yang tidak proporsional ini menyeret anak-anak dan santri ke dalam rasa takut, menciptakan trauma psikologis, serta menyebar teror mental di tengah masyarakat," ujarnya.
Khairul Ghazali menegaskan penegakan hukum tidak boleh berdiri di atas kepanikan dan rasa takut warga.
"Jika cara-cara represif dan intimidatif terus melindas ruang-ruang edukatif, maka Polri bukan lagi hadir sebagai pelindung rakyat, melainkan sebagai penabur rasa cemas yang merobek kepercayaan publik. Kami mendesak adanya evaluasi mendalam, transparansi, serta pertanggungjawaban atas tindakan tersebut demi mengembalikan martabat hukum dan kehormatan institusi," pungkas Ustadz Khairul Ghazali. (red)

