ANTARASATU.COM | Medan - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguat dalam jangka pendek jika Morgan Stanley Capital International (MSCI) melunakkan sikapnya. Namun nilai tukar rupiah masih akan tertekan sentimen negatif di pasar keuangan domestik.
Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, potensi penguatan IHSG bisa terjadi jika MSCI melunak. MSCI sebelumnya sempat mengisyaratkan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia.
Pada sesi perdagangan Senin (19/10) sore, IHSG berbalik arah dan memangkas kerugiannya. Meski begitu, indeks gagal bertahan di atas level psikologis 5.000.
IHSG ditutup melemah 3,64% di level 4.996,609, setelah sempat menyentuh level tertinggi harian di 5.012. Sejak pembukaan, IHSG langsung berada di bawah level 5.000.
Sejak perdagangan akhir pekan lalu, indeks sempat terkoreksi lebih dari 16%. Berdasarkan data perdagangan hari ini, sebanyak 656 emiten mengalami koreksi. Sementara 100 saham menguat dan 43 saham lainnya stagnan.
Beberapa saham yang menguat antara lain PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).
Di pasar valuta asing, rupiah ditutup melemah ke level Rp18.030 per dolar AS. Menurut Gunawan, tekanan terhadap rupiah menguat belakangan ini, terutama sejak tekanan hebat muncul setelah publikasi MSCI.
Ia menyebut, pelemahan rupiah di atas Rp18.000 per dolar AS sangat kontras dengan sejumlah indikator keuangan AS yang pada dasarnya bisa menekan kinerja dolar AS.
"Namun, buruknya tekanan pasar keuangan domestik setelah pengumuman lembaga pemeringkat efek membuat rupiah ikut tertekan, meski tidak didukung sentimen domestik yang sejatinya bisa melemahkan rupiah," ungkap Gunawan, di Medan, Senin (19/10).
Dia menambahkan, sentimen negatif saat ini telah mengisolasi sektor keuangan dalam negeri dari sejumlah indikator keuangan dan ekonomi yang seharusnya menguntungkan IHSG maupun rupiah.
Sementara itu, harga emas dunia ditransaksikan melemah ke level US$ 4.169 per ons troy, atau masih di kisaran Rp2,4 juta per gram. Harga emas masih mampu menahan sentimen negatif dari rilis data inflasi AS sebelumnya.
"Meski demikian, harga emas mulai terdampak kenaikan harga minyak mentah dunia," pungkasnya.
