google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Gandeng Tiga BUMN, PGN Bidik Transporter CO₂ Utama di Indonesia

Advertisement

Gandeng Tiga BUMN, PGN Bidik Transporter CO₂ Utama di Indonesia

23 Mei 2026


ANTARAsatu.com | JAKARTA - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) memperkuat posisinya dalam ekosistem energi bersih nasional. Subholding Gas Pertamina ini resmi membidik peran sebagai penyedia jaringan transportasi karbon dioksida (CO₂) utama di Tanah Air.

Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Joint Study Agreement (JSA) mengenai studi teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) pada ajang IPA Convex 2026, Kamis (21/5). Emiten bersandi saham PGAS ini menggandeng tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus, yakni PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk mengembangkan amonia rendah karbon (blue ammonia).

Melalui kerja sama ini, para pihak akan melakukan kajian komprehensif yang mencakup aspek teknis, legal, ekonomi, hingga komersial terkait pengembangan ekosistem CCS. Sinergi lintas BUMN ini difokuskan untuk membangun rantai pasok amonia rendah karbon yang efisien dan berkelanjutan, mulai dari penangkapan emisi, transportasi, hingga injeksi CO₂ ke dalam formasi geologi bawah tanah.

Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN Hery Murahmanta mengungkapkan, peran sebagai penyedia transportasi CO₂ merupakan bagian dari strategi step out perusahaan.

"Langkah ini menjadi salah satu pilar penting PGN untuk memperluas portofolio bisnis ke ranah energi bersih dan dekarbonisasi," ujarnya.

Untuk memuluskan inisiatif hijau itu PGN akan mengoptimalkan infrastruktur gas bumi eksisting serta kapabilitas pengembangan jaringan pipa yang dimiliki perusahaan. Salah satu strategi andalannya adalah memanfaatkan right of way (ROW) jalur pipa gas bumi yang sudah ada untuk mempercepat pembangunan jaringan transportasi CO₂.

Pemanfaatan ROW jalur pipa eksisting akan membuat integrasi ekosistem CCS berjalan lebih efisien dari sisi investasi dan waktu operasional. Langkah ini sekaligus mempertegas komitmen PGAS dalam mengintegrasikan infrastruktur gas bumi dengan teknologi masa depan guna menekan emisi karbon secara masif.

Sebagai tahap awal, studi bersama akan memetakan wilayah-wilayah strategis yang memiliki potensi besar dalam pengembangan ekosistem CCS dan produksi blue ammonia. Koridor studi awal akan difokuskan pada wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur.

Hal itu karena kedua wilayah merupakan klaster industri dengan intensitas konsumsi energi yang besar. Para pihak juga membuka peluang untuk mengkaji wilayah potensial lain.

Sinergi antara Pertamina Group dan Pupuk Indonesia ini pun diharapkan mampu menjadi pionir komersialisasi CCS di Indonesia. Proyek investasi hijau itu ditargetkan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi baru (new revenue stream) dari bisnis karbon, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional yang sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE).