Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Pasar keuangan dalam negeri sedang tidak baik-baik saja. Nilai tukar Rupiah terus menunjukkan tren mengkhawatirkan hingga ditutup melemah ke level 17.090 per Dolar AS pada perdagangan Selasa (7/4/2026).
Angka itu nyaris menyentuh level psikologis baru di angka 17.100. Fenomena ini sejalan dengan ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang gagal bertahan di level 7.000.
Ekonom dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISI) Gunawan Benjamin menilai, tekanan besar yang dialami pasar keuangan domestik tidak lepas dari memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat dan Israel menjadi motor utama ketidakpastian global.
"Posisi Rupiah maupun IHSG serta pasar keuangan global pada umumnya akan sangat ditentukan oleh sejauh mana eskalasi perang yang tercipta antara Iran dengan AS dan Israel," ungkapnya, di Medan.
Gunawan menjelaskan, ancaman perang ini memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini bertengger di kisaran US$ 115 per barel. Kenaikan harga energi ini menjadi ancaman serius bagi inflasi global yang pada gilirannya memaksa bank sentral untuk tetap memertahankan kebijakan moneter ketat (hawkish).
Kekuatan Dolar AS juga semakin tak terbendung. Indikator keuangan Amerika Serikat menunjukkan pemulihan kinerja yang solid, terlihat dari USD Index yang masih kokoh bertahan di atas angka 100.
Hal inilah yang membuat mata uang garuda sulit untuk melakukan perlawanan. Kelesuan ekonomi ini berdampak langsung pada lantai bursa.
IHSG tercatat melemah 0,26% ke level 6.971,027. Sejumlah saham unggulan (bluechip) dan emiten besar turut menjadi korban tekanan jual, di antaranya (sektor perbankan) BBRI, BMRI dan BBNI, serta (sektor pertambangan dan lainnya) ANTM dan DEWA.
Di tengah badai yang menghantam Rupiah dan saham, harga emas dunia justru tampil sebagai pemenang. Emas melonjak ke level US$ 4.660 per ons troy atau setara dengan Rp 2,57 juta per gram.
Meski emas mampu melawan tekanan kenaikan harga minyak, Gunawan mencatat pergerakan logam mulia ini ke depan masih sangat bergantung pada diplomasi di Timur Tengah. Investor kini sedang menanti konfirmasi kesepakatan damai yang mungkin terjadi antara pihak-pihak yang bertikai untuk menentukan arah investasi selanjutnya.
