google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Kelakuan ala Tentara Bayaran Pemain Italia di Balik Kegagalan Piala Dunia 2026

Advertisement

Kelakuan ala Tentara Bayaran Pemain Italia di Balik Kegagalan Piala Dunia 2026

05 April 2026

 


LANGIT di Zenica, Bosnia-Herzegovina, pada Selasa (31/3/2026) malam, bukan hanya menjadi saksi bisu runtuhnya martabat sepak bola Italia. Di balik kekalahan adu penalti 1-4 yang memastikan Gli Azzurri absen untuk ketiga kalinya secara beruntun di Piala Dunia, terselip narasi memuakkan tentang hilangnya rasa patriotisme yang berganti menjadi kalkulasi materi.


Italia kini resmi menyandang aib sejarah, satu-satunya juara dunia yang gagal menembus putaran final tiga kali berturut-turut (2018, 2022, dan 2026). Namun, jika sebelumnya kegagalan ditudingkan pada kualitas teknis pemain yang dianggap medioker, laporan terbaru dari La Repubblica mengungkap borok yang lebih dalam di ruang ganti.


Bukannya fokus pada strategi meredam serangan Bosnia, sejumlah punggawa timnas Italia justru dilaporkan sibuk mempertanyakan "uang lelah." Laporan La Repubblica menyebutkan bahwa atmosfer di ruang ganti menjelang laga hidup-mati tersebut sangat jauh dari kata heroik.


"Atmosfer di Zenica ketika itu tegang. Lebih dari sekadar adrenalin dan tekanan, ada perasaan gugup di sana," tulis laporan tersebut, lansir bolasport.com.


Kegugupan itu ternyata bukan berasal dari rasa takut kalah demi negara, melainkan ketidakpastian soal kantong pribadi. Satu kelompok pemain mulai berisik menanyakan apakah mereka akan menerima bonus jika berhasil mengalahkan Bosnia.


Ironisnya, angka yang diributkan tergolong "receh" bagi ukuran bintang Serie A atau Premier League. Kabarnya, total bonus yang didiskusikan berkisar 300 ribu euro. Jika dibagi rata ke seluruh skuad, tiap pemain hanya akan mengantongi sekitar 10 ribu euro atau hampir Rp200 juta. Jumlah yang mungkin setara dengan gaji mingguan pemain pelapis di klub besar Eropa.


Mendengar diskusi yang tak elok itu, pelatih Gennaro Gattuso pun naik pitam. Sosok yang dikenal sebagai "Si Badak" saat membawa Italia juara dunia 2006 ini langsung mengintervensi. Dengan karakter kerasnya, Gattuso mengingatkan para pemain bahwa tidak pantas membahas materi di saat reputasi negara sedang berada di ujung tanduk.


"Ayo kita lolos dulu, setelah itu kita lihat nanti," tegas Gattuso, mencoba membungkam mentalitas "tentara bayaran" yang merayap di skuadnya.


Ia menegaskan, tugas membela negara harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum menuntut imbalan.


Mentalitas rapuh ini semakin terbukti setelah peluit panjang berbunyi. Usai dipastikan tersingkir, para pemain Italia seolah kehilangan nyali untuk menghadapi publik.


Sesuai kontrak dengan stasiun televisi RAI, seharusnya ada tiga pemain yang memberi keterangan pers.

Kenyatannya, hampir seluruh skuad memilih bersembunyi.


Hanya Leonardo Spinazzola yang berani muncul di depan kamera, itu pun dalam kondisi terisak dan bersimbah air mata. Pemain lainnya memilih bungkam, menghindari tanggung jawab moral kepada jutaan pendukung yang patah hati.


Meski para pemain senior sempat meminta Gattuso untuk bertahan dalam suasana emosional di ruang ganti, integritas sang pelatih tampaknya sudah terlanjur terluka. Gattuso menyadari bahwa ia tidak bisa lagi memimpin tim yang kehilangan jiwa Azzurri-nya.


Pada Jumat (3/4/2026), Gattuso resmi meletakkan jabatannya. Ia pergi meninggalkan tim yang kini bukan saja krisis prestasi, tapi juga krisis identitas.


Italia kini harus memulai dari nol, mencari kembali pemain-pemain yang bermain dengan hati. Bukan mereka yang bertanding layaknya tentara bayaran yang menunggu setoran.