Prosesi dimulainya pemulihan 37.318 hektare lahan sawah di Sumut yang rusak akibat banjir dan longsor, di Kecamatan Tukka, Tapteng, Kamis (15/1).
ANTARAsatu.com | TAPANULI TENGAH - Pemerintah memulai pemulihan 37.318 hektare lahan sawah di Sumatra Utara yang rusak akibat banjir dan longsor, termasuk 3.205 hektare di Kabupaten Tapanuli Tengah. Pemulihan difokuskan pada pengembalian fungsi lahan dan jaringan irigasi agar produksi pangan kembali berjalan.
Kerusakan lahan sawah di Sumut terdiri atas 22.274 hektare rusak ringan, 10.690 hektare rusak sedang dan 4.354 hektare rusak berat. Kerusakan tersebut berdampak langsung pada produktivitas pertanian dan pendapatan petani.
"Groundbreaking hari ini adalah komitmen nyata untuk memulihkan kembali fungsi lahan sawah dan sistem irigasi yang rusak akibat bencana," ujar Surya, Wakil Gubernur Sumut saat seremoni dimulainya pemulihan lahan di Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, Kamis (15/1).
Pemulihan di Tapanuli Tengah dipusatkan di Kecamatan Tukka yang merupakan sentra pertanian rakyat. Pemerintah menilai kerusakan lahan dan irigasi di wilayah ini menyebabkan penurunan produksi secara signifikan.
Pemerintah pusat turut mendukung pemulihan dengan mengucurkan bantuan senilai Rp78,5 miliar untuk sektor pertanian di Sumut, Aceh dan Sumbar. Bantuan tersebut mencakup benih, pupuk, alat dan mesin pertanian serta kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta rehabilitasi dilakukan dengan skema padat karya. Skema ini ditujukan agar petani tetap memperoleh penghasilan selama proses pemulihan berlangsung.
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menyatakan percepatan pemulihan lahan pertanian penting untuk menjaga stabilitas daerah. Dia menilai pemulihan sawah akan berdampak langsung pada ketahanan pangan dan ekonomi lokal.
Rehabilitasi mencakup perbaikan irigasi, pembangunan jalan usaha tani serta penyaluran traktor dan alat pengolah lahan. Pemerintah menargetkan lahan sawah terdampak kembali produktif secara bertahap sepanjang 2026.
