google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi Dipengaruhi Inflasi AS dan Tensi Geopolitik

Advertisement

Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi Dipengaruhi Inflasi AS dan Tensi Geopolitik

12 Januari 2026

 

Ilustrasi.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi Amerika Serikat dan memanasnya tensi geopolitik global. Emas diperdagangkan di level tertinggi baru US$4.592 per ons troy, mencerminkan pergeseran investor ke aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik internasional.


Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin menilai lonjakan harga emas tidak terlepas dari memburuknya kondisi global.


"Sekalipun inflasi AS berpotensi naik, harga emas justru diuntungkan oleh ketidakstabilan politik global yang mendorong investor mencari aset lindung nilai," katanya, di Medan, Senin (12/1).


Di pasar domestik, harga emas dunia tersebut setara dengan kisaran Rp2,5 juta per gram. Kenaikan ini terjadi saat pelaku pasar global bersikap defensif menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat yang diproyeksikan meningkat.


Ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed serta konflik geopolitik yang terus bereskalasi memperkuat permintaan emas. Tekanan global itu juga tercermin di pasar keuangan Indonesia.


Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat bergerak di zona hijau pada sesi awal perdagangan, tetapi kemudian tertekan tajam pada sesi kedua. IHSG sempat anjlok ke level 8.715 sebelum akhirnya ditutup melemah 0,58% di posisi 8.884,723, sekaligus kembali gagal bertahan di atas level psikologis 9.000.


Gunawan menilai pelemahan IHSG lebih disebabkan aksi ambil untung setelah indeks bergerak lama di kisaran 9.000. Koreksi tersebut dinilai masih dalam kategori wajar dan tidak mencerminkan perubahan fundamental pasar secara drastis.


Sementara itu, nilai tukar Rupiah tetap berada di zona merah. Mata uang Garuda ditutup melemah di kisaran 16.825 per Dolar AS, sejalan dengan sikap wait and see pelaku pasar menjelang rilis data inflasi AS.


Kekhawatiran terhadap inflasi global dan ketidakpastian geopolitik dinilai menjadi faktor utama pelemahan Rupiah. Pelemahan Rupiah terjadi meskipun data penjualan ritel nasional November 2025 tumbuh 6,3% secara tahunan.


"Data domestik tersebut belum cukup kuat menahan tekanan eksternal, seiring meningkatnya dominasi sentimen global di pasar keuangan," pungkas Gunawan.