google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Mandor Pintar Institute Beri Harapan Baru untuk Pekerja Konstruksi yang "Tertinggal"

Advertisement

Mandor Pintar Institute Beri Harapan Baru untuk Pekerja Konstruksi yang "Tertinggal"

24 Agustus 2025

 

Para peserta pelatihan di Mandor Pintar Institute.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Pendidikan selalu menjadi isu yang hangat dibicarakan di Indonesia. Pendidikan bukan soal siapa yang punya, siapa yang bisa atau siapa yang beruntung.


Pendidikan adalah hak semua orang, hak untuk belajar, tumbuh dan bermimpi lebih besar. Namun kenyataannya hingga hari ini masih banyak orang di Indonesia  belum merasakan akses pendidikan yang layak.


Tidam sedikit anak yang harus menempuh jarak jauh, menantang keterbatasan ekonomi, bahkan mengalah pada keadaan hanya demi bisa duduk di bangku sekolah. Faktanya, meski hampir semua anak usia sekolah dasar sudah mendapatkan akses pendidikan, semakin tinggi jenjangnya, semakin menyusut pula angka partisipasinya.


Menurut data Badan Pusat Statistik 2024, dari 100 anak, hanya 92 yang melanjutkan ke jenjang SMP dan menurun lagi menjadi 88 di tingkat SMA. Begitu menginjak usia kuliah, angkanya terjun drastis, hanya 32 dari 100 yang benar-benar mampu melanjutkan ke perguruan tinggi.


Di sisi lain, Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah perguruan tinggi terbanyak di dunia. Per Februari 2025, Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) mencatat lebih dari 6.000 institusi pendidikan tinggi aktif.


Mulai dari kampus negeri, swasta, keagamaan hingga lembaga di bawah kementerian teknis. Namun jumlah itu belum berarti akses yang mudah. Biaya, jarak dan kondisi keluarga masih jadi penghalang utama, terutama bagi kelompok rentan.


Dalam situasi ini, pendidikan nonformal menjadi alternatif yang lebih inklusif, melalui pelatihan, kursus, hingga program berbasis komunitas. Membuka akses belajar bagi mereka yang kesulitan menjangkau pendidikan formal.


Nyiayu Chairunnikma, Head of Marketing Semen Merah Putih menuturkan, setiap orang berhak belajar dan berkembang, tanpa dibatasi status sosial atau gelar.


"Belajar bisa dari mana saja, dari pengalaman, komunitas, hingga pelatihan di tempat kerja," ujarnya melalui keterangan tertulis, belum lama ini.


Di ranah industri konstruksi, inisiatif kesetaraan akses belajar diwujudkan melalui program Mandor Pintar Institute (MPI) yang diinisiasi oleh Semen Merah Putih. Program ini hadir sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap pengembangan kapasitas pekerja konstruksi, kelompok yang seringkali luput dari akses pendidikan formal.


Lewat MPI, para pekerja diberi kesempatan mengikuti pelatihan teknis yang relevan, praktis dan langsung dapat diterapkan di lapangan. Mulai dari teknik pengecoran, pengawasan proyek, hingga manajemen keselamatan kerja.


Materi dirancang sesuai kebutuhan industri agar berdampak langsung pada kualitas kerja. Yang membedakan, pelatihan ini juga memberikan sertifikasi keahlian resmi dari badan sertifikasi keahlian.


MPI juga menjalin kerja sama dengan pemerintah, seperti lewat Balai Jasa Konstruksi Wilayah (BJKW), Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Sertifikat ini bukan hanya pengakuan atas kompetensi, tetapi juga menjadi nilai tambah yang meningkatkan kepercayaan diri.


Juga membuka peluang karir yang lebih luas, baik di proyek nasional maupun swasta. Melalui MPI, pendidikan bisa hadir di mana saja, bahkan di tengah debu proyek dan hiruk-pikuk pembangunan.


"Selama ada komitmen untuk membuka pintu belajar bagi semua," pungkas Nyiayu Chairunnikma.