google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Rupiah Melemah dan Minyak Mentah Melonjak, CPO Siap Tembus 5.000 Ringgit

Advertisement

Rupiah Melemah dan Minyak Mentah Melonjak, CPO Siap Tembus 5.000 Ringgit

26 Oktober 2026

Ilustrasi.

ANTARASATU.COM | Medan - Harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali berbalik menguat. Kenaikan ini terjadi meski minyak kedelai, pesaing utama CPO, sedang terkoreksi.

Harga CPO menguat ke level 4.818 ringgit per ton. Sebaliknya, harga minyak kedelai turun ke US$12,4 per bushel setelah sempat menyentuh US$13,33 per bushel pada September lalu.

Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai penguatan ini sejalan dengan proyeksi sebelumnya.

"Harga CPO masih berada dalam tren naik seiring turunnya produksi dan meningkatnya permintaan," ujarnya, di Medan, Senin (26/10).

Menurut Gunawan, pergerakan harga CPO tahun ini cukup fluktuatif. Harga sempat menyentuh titik terendah di kisaran 5.020 ringgit per ton pada Agustus, lalu turun lagi ke sekitar 4.520 ringgit per ton pada awal Oktober sebelum kembali bangkit.

Gunawan menyebut pelemahan rupiah ikut menopang kinerja perusahaan sawit berorientasi ekspor. Pendapatan dalam dolar AS atau ringgit memberi nilai tukar yang lebih menguntungkan bagi eksportir.

Faktor lain adalah kenaikan harga minyak mentah dunia ke level US$114 per barel. Harga minyak mentah yang tinggi mengerek harga minyak nabati, termasuk CPO.

Meski prospeknya positif, Gunawan mengingatkan bahwa secara teknikal CPO masih berpotensi bergerak mendatar. Harga CPO kemungkinan berkonsolidasi di level saat ini sampai muncul sentimen baru.

Level 4.818 ringgit per ton merupakan area resisten kuat. Sebelumnya, saat harga tertekan, level ini mampu menahan penurunan. Kini area tersebut membentuk pola double top yang berpeluang menahan kenaikan untuk sementara.

Namun, jika harga minyak mentah dunia bertahan di atas US$114 per barel, CPO berpeluang menembus resisten itu hingga mendekati 5.000 ringgit per ton.

Gunawan memperkirakan sentimen fundamental masih kuat hingga menjelang akhir 2026. Ia melihat tren kenaikan harga akan kembali terlihat bulan depan, seiring eskalasi konflik yang meluas.

"Tensi geopolitik yang memburuk tidak bisa dipungkiri ikut mendorong harga CPO," tuturnya.

Meski begitu, ia mengingatkan eskalasi konflik yang meluas juga berpotensi mengganggu harga dan menciptakan ketidakseimbangan pasar.