Di Indonesia, Maulid Nabi dirayakan dengan berbagai tradisi keislaman yang sarat makna, dengan menggelar acara seperti tabligh akbar, pembacaan sholawat, perlombaan keagamaan, serta kegiatan sosial lainnya.
Namun dibalik itu ternyata ada suatu keunikan di peringatan Maulid Nabi Muhammad, yang digelar masyarakat suku Banjar di Desa Telaga Tujuh, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad ala masyarakat suku Banjar ini merupakan sebuah perpaduan tradisi religius dan pelestarian budaya banjar yang sarat akan makna silaturahmi.
Desa Telaga Tujuh sendiri merupakan saksi bisu jejak migrasi dan pemukiman suku Banjar di pesisir timur Sumatera Utara yang telah menetap selama lima generasi secara turun-temurun.
Seperti diketahui, salah satu ciri khas utama perayaan Maulid suku Banjar yang tetap dilestarikan di perantauan adalah tradisi dengan diberinama Aruh Mulud atau kenduri besar. Acara ini menjadi wadah berkumpulnya seluruh warga desa, baik sesama keturunan suku Banjar maupun warga sekitar, termasuk warga yang berasal dari luar desa untuk mempererat tali silaturahmi.
Kepala Desa Telaga Tujuh Sunarto mengatakan tradisi Aruh Mulud sangat positif sebagai kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai keagamaan dalam situasi kehidupan modern, namun tetap menjunjung tinggi budaya sekaligus merajut kebersamaan lewat silaturahim.
Menurutnya Aruh Maulid Banjar merupakan bentuk kegembiraan umat Islam khususnya suku Banjar dalam menyambut dan memeriahkan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang selalu digelar setiap bulan Rabiul Awal kalender tahun hijriah.
"Tradisi ini bukan saja bagian dari budaya masyarakat Kalimantan semata. Tetapi lebih dari punya nilai-nilai religiuitas sangat tinggi yang melahirkan tatanan kehidupan modern dan agamais, namun tetap menjunjung budaya sehingga harus tetap dilestarikan,” ucap Kades Telaga Tujuh, Sunarto, saat bincang-bincang kepada ANTARASATU disela-sela peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, yang digelar di Masjid Al-Kautsar, Dusun III, Desa Telaga Tujuh, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, Minggu (25/10/2026).
Ia menuturkan, sarapan dan makan siang bersama dengan mengundang keluarga, kerabat dan tetangga dalam tradisi itu memiliki makna mendalam arti berbagi dan bersilaturahim. Bahkan keunikan saat menyantapnya dengan posisi duduk 4 orang dalam setiap hidangan punya arti mendekatkan satu dengan lainnya.
“Yang sangat unik. Setiap hidangan itu ada 4 orang yang duduk makan bersama,” ungkapnya. (red)

