google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Bayang-Bayang MSCI dan Kenaikan Yield SBN Ancam Penguatan IHSG dan Rupiah

Advertisement

Bayang-Bayang MSCI dan Kenaikan Yield SBN Ancam Penguatan IHSG dan Rupiah

27 Oktober 2026

Ilustrasi.

ANTARASATU.COM | Medan - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah kompak melemah pada perdagangan Selasa (27/10). Bayang-bayang ancaman MSCI dan kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) diyakini akan menekan pasar keuangan domestik.

IHSG sempat menguat ke level 5.418 pada sesi pagi, tetapi tak kuasa menahan tekanan jual. Indeks akhirnya ditutup melemah 1,99% ke level 5.266,13. Di tengah perdagangan, IHSG bahkan sempat menyentuh titik terendah di 5.172.

Koreksi terjadi secara luas. Sebanyak 611 saham turun, 100 saham naik, dan 82 saham stagnan.

Di pasar valuta asing, rupiah ditutup melemah ke Rp18.145 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah sejalan dengan pelemahan di pasar obligasi. Yield SBN tenor 10 tahun naik ke level 7,454%.

Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, kenaikan yield SBN menjadi faktor utama yang menekan rupiah.

"Yield yang naik menunjukkan tekanan jual di pasar obligasi. Ini memicu kekhawatiran arus modal keluar yang langsung membebani rupiah," ujarnya, di Medan, Selasa (27/10).

Menurut Gunawan, tekanan di pasar obligasi juga membuka spekulasi bahwa Bank Indonesia (BI) berpeluang menaikkan bunga acuan lagi pada Rapat Dewan Gubernur berikutnya. Kenaikan suku bunga akan menekan valuasi saham sehingga IHSG ikut terseret.

Di sisi lain, ancaman MSCI (Morgan Stanley Capital International) masih membayangi pasar saham. Selama ketidakpastian soal MSCI belum jelas, pelaku pasar cenderung berhati-hati dan memilih mengurangi porsi di saham.

Tekanan dari global memperberat situasi. Harga minyak mentah Brent naik ke kisaran US$116 per barel akibat kekhawatiran eskalasi konflik yang kian memburuk. Sementara itu, harga emas dunia terkoreksi ke kisaran US$3.996 per ons troy, atau sekitar Rp2,34 juta per gram.

Ke depan, pasar akan mencermati sejumlah agenda ekonomi AS, mulai dari kebijakan suku bunga acuan The Fed hingga rilis data inflasi. Gunawan memperkirakan sentimen tersebut masih berpeluang menjadi katalis negatif sepanjang pekan ini.

"IHSG dan rupiah masih rawan tertekan dalam jangka pendek, terutama jika yield SBN terus naik dan kejelasan MSCI belum muncul," tuturnya.