![]() |
| Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, AMPHIBI dan KTHn AMPHIBI Percut Tanam 75.000 Mangrove |
Ketua KTHn AMPHIBI Percut A. Sayuti menyatakan kegiatan ini bagian dari komitmen KTHn AMPHIBI Percut memulihkan ekosistem pesisir, mengurangi abrasi, dan memperkuat ketahanan masyarakat nelayan terhadap perubahan iklim.
"Mangrove yang kita tanam hari ini adalah benteng hidup untuk melindungi desa kami dari banjir rob, sekaligus sumber kehidupan bagi biota laut dan nelayan ke depannya,” ujar Sayuti.
Sayuti juga menjelaskan penanaman mangrove di pesisir Desa Percut merupakan lanjutan dari program tanam mangrove PT Freeport Indonesia bekerjasama dengan Direktorat Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Wilayah Pesisir dan Laut (PPKPL) Ditjen PPKL KLH/BPLH, UGM dan AMPHIBI yang dilaksanakan pada Agustus 2024 lalu.
"Sebanyak 250.000 batang bibit/Propagul jenis Rhizopora Mukronata dan Rhizopora Apyculata ditanam di muara sungai Desa Percut dan pesisir pantai Desa Percut dengan luas 25 hektare," terang Sayuti.
Namun sayangnya, tambah Sayuti, pada awal tahun 2025 disaat pertumbuhan tanaman sedang berkembang dan berdaun 4 hingga 8, kiriman berbagai jenis sampah dari hulu sungai Percut merusak dan menghantam tanaman hingga mati.
"Walau lokasi tanam sudah di pagar keliling menggunakan jaring nylon / Medang kasar. Besarnya volume sampah tetap merubuhkan pagar jaring pengaman tanaman mangrove," beber Sayuti.
Selanjutnya, kata Sayuti, team investigasi Amphibi menelusuri sumber sampah dengan jumlah ratusan ton tersebut. Tenyata sampah berasal dari Bendungan Sidoras yang berjarak sekitar 7 km dari muara sungai Percut.
"Sebanyak 200.000 bibit mangrove yang tertanam rusak dan mati terdampak dari berbagai sampah yg dikirim dari Bendungan Sidoras,* ungkap Sayuti.
Ketua Umum AMPHIBI yang juga Ketua Kelompok Tani Hutan Nelayan Amphibi Percut, Agus Salim Tanjung (AST) menyayangkan kejadian tersebut. Seharusnya pihak bendungan yang dibawah kendali Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II melakukan penanganan sampah yang masuk di area Bendungan Sidoras.
"Bukan melepas sampah begitu saja dan membiarkan ratusan hingga ribuan ton sampah menuju ke muara laut. Hal ini sering dilakukan saat Bendungan dibuka ketika debit air meninggi," jelas AST.
AST menambahkan sebagai penanggung jawab wilayah sungai, AMPHIBI melakukan audensi dan klarifikasi dengan pihak BBWS Sumatera II. Dalam audensi dan klarifikasi tersebut, Amphibi diterima Wanda Surbakti dan M. Yudi.
Menurut AST, sumber sampah terbesar adalah saat Bendungan Sidoras membuka pintu air. Seharusnya di Bendungan Sidoras ada petugas yang melakukan pengangkutan sampah dari Bendungan. Tidak dibiarkan lepas begitu saja menuju ke muara sungai sehingga merusak tanaman Mangrove Kelompok Masyarakat Nelayan.
"Hingga saat ini pihak BBWS Sumatera II belum memberikan jawaban atas permasalahan tersebut," terang AST.
Untuk memulihkan kembali kerusakan tanaman tersebut, Lembaga Amphibi bersama KTHn AMPHIBI Percut dan masyarakat nelayan sekitar mengambil inisiatif untuk kembali melakukan penanaman pada bulan Agustus 2025 dengan jumlah 65.000 bibit/Propagul dan pada Januari 2026 kembali menanam 50.000 Propagul.
"Dengan memanfaatkan sumber bibit yang dipanen dilokasi hutan mangrove di Desa Percut, Amphibi dan KTHn AMPHIBI kembali melakukan penanaman. Dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 kami melakukan penanaman sebanyak 75.000 bibit Propagul. Jenis mangrove yang ditanam meliputi _Rhizophora Mucronata dan _Rhizophora _Aviculata_, dipilih karena adaptif di zona pasang surut pesisir pantai Desa Percut," ucap AST.
Lanjut AST, AMPHIBI juga menyiapkan skema pemeliharaan selama 6 bulan ke depan untuk memastikan tingkat hidup bibit tetap tinggi.
"Aksi tanam mangrove ini diharapkan menjadi pemicu kolaborasi lebih luas antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir Sumatera Utara," tutur AST.
Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dengan aksi penanaman mangrove ini juga upaya kepedulian AMPHIBI dalam penurunan Emisi GRK/Upaya Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim.
"Sejalan dengan policy pemerintah dalam upaya menurunkan emisi GRK dengan penghijauan dan reboisasi serta konservasi alam melalui Penanaman Mangrove dengan target Nilai Ekonomi Karbon (NEK)," pungkas AST. ***

