ANTARAsatu.com | MEDAN - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terpuruk dan ditutup melemah signifikan hingga mendekati batas level Auto Reject Bawah (ARB) pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (5/6). IHSG membukukan koreksi tajam sebesar 4,2% ke level 5.594,765.
Meski sempat mengalami penguatan di sesi pembukaan, indeks tak mampu melawan tekanan jual yang masif dan kian terbenam hingga penutupan. Sebanyak 626 saham mengalami koreksi, sementara hanya 108 saham yang menguat dan 81 saham lain ditutup stabil.
Analis Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai kejatuhan dalam ini dipicu oleh rontoknya saham-saham berkapitalisasi besar (big caps).
"Dari 626 saham yang memerah, penurunan saham-saham blue chip seperti BBCA, BMRI, BBRI, ANTM, hingga AMMN menjadi motor utama yang berkontribusi pada koreksi besar IHSG hari ini," ujarnya, di Medan.
Selain faktor internal saham, Gunawan menyebut pelemahan mata uang rupiah pada perdagangan hari ini turut membebani kinerja pasar modal. Menurutnya, ada hubungan dua arah yang erat antara pergerakan IHSG dan rupiah.
Perdagangan mata uang rupiah selalu dibuka lebih cepat dibandingkan dengan pasar saham. Efeknya, sentimen negatif atau koreksi yang terjadi pada rupiah di pagi hari kerap menjalar dan memberikan tekanan awal ke IHSG.
Namun, Gunawan mencatat ada anomali yang tidak sepenuhnya sejalan antara IHSG dan rupiah pada perdagangan kali ini. Di sesi pagi, rupiah sempat tertekan hingga menyentuh level Rp18.050 per dolar AS.
Namun menjelang penutupan, performa mata uang Garuda berhasil berbalik arah (rebound) dan ditutup menguat tipis di level Rp18.010 per dolar AS. Sayangnya, penguatan rupiah di akhir sesi nyatanya tidak mampu menopang psikologis pasar saham.
IHSG justru bergeming dan tetap ditutup di posisi paling lemah selama sesi perdagangan berlangsung. Di sisi lain, aset aman (safe haven) seperti emas dunia terpantau bergerak di zona hijau.
Harga emas dunia ditransaksikan menguat tipis di level US$4.463 per ons troy, atau berkisar di harga Rp2,59 juta per gram. Menurut Gunawan, volatilitas harga logam mulia pada hari ini belum digerakkan oleh sentimen fundamental baru, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor teknikal pasar.
