Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Berbagai wilayah di Sumatera Utara, termasuk Kota Medan dan sekitarnya, dikepung cuaca buruk beberapa hari terakhir. Fenomena alam berupa hujan lebat yang bertiup bersama angin kencang dan sambaran petir terjadi secara berulang, terutama pada sore hingga malam hari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan pola cuaca kontras, panas terik di siang hari dan badai di malam hari, ini masih akan bertahan hingga Kamis 11 Juni 2026. Masyarakat diimbau meningkatkan kesiapsiagaan seiring meluasnya dampak kerusakan di berbagai kabupaten dan kota.
Prakirawan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan Nensy Nindy Tambunan memaparkan, cuaca ekstrem ini dipicu oleh dinamika atmosfer yang sangat kompleks di atas wilayah Sumatra bagian utara.
Faktor utama yang mengontrol tingginya curah hujan adalah aktifnya Gelombang Ekuatorial Rossby dan Kelvin.
Dua gelombang atmosfer ini bergerak melintasi wilayah Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat, yang secara langsung menyuplai massa udara basah.
"Berdasarkan analisis angin, terdapat fenomena belokan angin (shearline) serta daerah pertemuan angin (konvergensi) yang memanjang di wilayah Sumatra Utara. Kondisi ini memicu pertumbuhan awan konvektif secara signifikan dan cepat, menghasilkan hujan intensitas sedang hingga lebat," ungkapnya, Minggu (7/6).
Meski telah memicu kerusakan di lapangan, dia menyatakan secara parameter meteorologis fenomena ini belum masuk ke dalam kategori cuaca ekstrem. Namun, perubahan pola cuaca yang terjadi sangat cepat tetap menyimpan potensi bahaya laten selama masih berlangsung.
Aktivitas atmosfer yang meninggi pada malam hari, seperti yang terjadi pada Kamis (4/6), langsung berdampak pada infrastruktur publik di Kota Medan. Terpaan angin kencang merobohkan jajaran pohon perindang jalan dan merusak atap rumah warga.
Ambruknya pohon-pohon besar tersebut menimpa kabel-kabel utama dan merobohkan sedikitnya 12 tower PLN. Akibatnya, gangguan kelistrikan dan pemadaman massal sempat melanda sejumlah wilayah akibat rusaknya jaringan distribusi utama.
Dampak dari tingginya intensitas hujan juga tercatat pada Jumat (5/6). Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Sumatera Utara, luapan sejumlah sungai utama di Medan tak mampu menampung debit air, memicu banjir yang merendam kawasan permukiman di empat kecamatan.
Kabid Penanganan Darurat, Peralatan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati, menyebutkan korban terdampak banjir meluas hingga ribuan kepala keluarga.
"Berdasarkan laporan Pusdalops Sumut, sedikitnya 1.992 rumah warga terdampak banjir di Kota Medan, dan sebanyak 30 jiwa terpaksa diungsikan ke posko darurat," katanya.
Untuk mengantisipasi banjir susulan, Pemko Medan bersama BPBD Sumut menyiagakan personel evakuasi dan peralatan logistik. Pemantauan berkala terhadap Tinggi Muka Air (TMA) di sejumlah aliran sungai rawan juga ditingkatkan.
Beruntung, sejauh ini tidak ada laporan korban luka maupun meninggal dunia akibat banjir tersebut. Selain banjir di ibu kota provinsi, amukan angin kencang juga dilaporkan merusak puluhan bangunan di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) dan Deli Serdang.
Di Sergai, angin puting beliung menyapu permukiman warga di tiga kecamatan berbeda pada Jumat (5/6), merusak sedikitnya 36 unit rumah. Kepala BPBD Sergai Rico Ebtian merinci sebaran kerusakan tersebut:
- Kecamatan Dolok Masihul: 30 rumah rusak.
- Kecamatan Perbaungan: 5 rumah rusak.
- Kecamatan Sei Rampah: 1 rumah rusak parah.
Bencana serupa juga melanda Kecamatan Namorambe, Deli Serdang. Camat Namorambe Nana Diana mengonfirmasi terdapat 39 rumah di wilayahnya mengalami kerusakan. Mayoritas kerusakan pada bagian atap yang terlepas diterjang angin.
Kerusakan tersebar di tiga desa terpisah, yaitu Desa Jatikesuma, Desa Ujung Labuhan dan Desa Sudirejo.
Sama halnya dengan wilayah lain, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dari amukan puting beliung di dua kabupaten tersebut.
Namun kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. BMKG mengimbau masyarakat untuk menjauhi pohon tua, papan reklame dan struktur bangunan yang rapuh saat hujan lebat mulai turun pada sore hari.
