google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Harga Emas Dunia Bakal Meroket Imbas Kebuntuan Negosiasi AS-Iran

Advertisement

Harga Emas Dunia Bakal Meroket Imbas Kebuntuan Negosiasi AS-Iran

02 Juni 2026


ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga emas dunia berpotensi melanjutkan tren kenaikan tajam setelah menyentuh level baru. Sentimen geopolitik global dan rilis data ekonomi domestik yang beragam dinilai bakal menjadi pendorong kuat bagi komoditas komoditas safe haven ini untuk meroket lebih tinggi.

Analis dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengungkapkan, tertahannya pembicaraan damai di Timur Tengah menjadi motor utama penguatan emas.

"Harga emas mengalami kenaikan di tengah kabar negosiasi damai Iran dengan Amerika Serikat yang saat ini mengalami deadlock (jalan buntu)," ungkapnya, Selasa (2/6).

Saat ini, harga emas dunia berada di level US$4.528 per ons troy, atau sudah setara dengan kisaran Rp2,6 juta per gram. Menurut Gunawan, kebuntuan politik itu memicu kecemasan pasar global sehingga pelaku pasar cenderung mengalihkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman seperti emas.

Di sisi lain, pasar keuangan domestik diselimuti oleh rilis data ekonomi makro yang bervariasi. Data inflasi nasional tercatat mengalami kenaikan hingga menyentuh angka 3,08%.

Angka ini memicu kekhawatiran karena kian mendekati target batas atas Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5%, dan cenderung menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan.

"Meski ada sentimen positif dari rilis indeks manufaktur Tanah Air yang kembali masuk dalam zona ekspansi, sayangnya data surplus neraca perdagangan untuk bulan April justru mengecil menjadi US$90 juta," kata Gunawan.

Kendati dibayangi sentimen negatif dari inflasi dan neraca perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini merespons positif dengan ditutup menguat 1,11% ke level 6.195,427.
Kondisi serupa terjadi pada mata uang rupiah.

Sempat mengalami pelemahan hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS pada sesi perdagangan pagi. Rupiah berhasil berbalik arah dan ditutup menguat ke level Rp17.835 per dolar AS di akhir perdagangan.

Selain faktor data makro, Gunawan menyebutkan bahwa pelaku pasar saat ini tengah mencermati efektivitas kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang dikelola melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Pasar akan melihat sejauh mana keberhasilan PT DSI dalam mendorong aliran modal masuk ke pasar keuangan domestik.

Di waktu yang bersamaan, pergerakan likuiditas bulan ini juga akan dipengaruhi oleh rencana pemerintah yang dikabarkan bakal menyerap likuiditas dengan menerbitkan obligasi dalam mata uang asing.

Gunawan memprediksi, kombinasi antara ketidakpastian geopolitik AS-Iran serta bayang-bayang inflasi domestik yang mendekati limit target BI akan membuat pamor emas semakin berkilau dalam beberapa waktu ke depan.