Iman Rachman.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman terjadi di tengah gejolak tajam Indeks Harga Saham Gabungan dalam dua hari terakhir. IHSG yang sempat jatuh ke level 8.167 saat pembukaan perdagangan akhir pekan berbalik menguat dan sempat menyentuh level tertinggi 8.408.
“Langkah ini memberi sinyal kuat bahwa stabilitas pasar modal menjadi perhatian serius pemerintah di tengah risiko tekanan ekonomi,” ujar Gunawan Benjamin, Ekonom UISU, Jumat (30/1).
IHSG akhirnya ditutup menguat 1,18% di level 8.329,606 setelah sempat berfluktuasi tajam sepanjang sesi perdagangan. Pengunduran diri pimpinan BEI dipandang sebagai bentuk tanggung jawab moral di tengah kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas bursa.
Presiden kemudian mengarahkan agar alokasi dana fund manager seperti dana pensiun dan asuransi ditingkatkan hingga 20% di pasar saham. Arahan itu dinilai mencerminkan upaya pemerintah mendorong perekonomian tidak hanya dari sektor riil, tetapi juga melalui penguatan pasar modal.
Tekanan berkepanjangan di pasar saham dilihat Gunawan berpotensi memicu capital outflow jika tidak segera diredam. Kondisi tersebut berisiko menekan neraca pembayaran sekaligus mendorong pelemahan nilai tukar rupiah.
Pelemahan rupiah, lanjut dia, pada akhirnya dapat berdampak ke sektor riil melalui kenaikan biaya dan gangguan aktivitas usaha. Efek lanjutan bahkan berpotensi menjalar ke persoalan serapan tenaga kerja jika tekanan pasar keuangan terus berlanjut.
Pada perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah tercatat melemah ke level 16.780 per dolar AS. Penguatan dolar Amerika Serikat terjadi di tengah sentimen global yang menempatkan mata uang tersebut dalam posisi dominan terhadap mata uang rival.
Di sisi lain, harga emas dunia justru bergerak melemah dan bertahan di kisaran US$5.100 per ons troy. Pelemahan ini terjadi setelah reli tajam sebelumnya yang sempat menembus level psikologis US$5.500 dan mendorong aksi ambil untung investor.
Meski terkoreksi, harga emas diyakini masih memiliki peluang untuk kembali menguat. Ketidakpastian geopolitik global serta proyeksi penurunan suku bunga acuan The Fed menjadi katalis utama pergerakan logam mulia ke depan.
Tekanan geopolitik global turut memperkuat prospek pergerakan aset aman di tengah volatilitas pasar keuangan. Ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat dinilai tidak sepenuhnya didorong data ekonomi, tetapi juga dipengaruhi tekanan politik Presiden AS terhadap bank sentralnya.
Arah kebijakan suku bunga acuan The Federal Reserve diproyeksikan menurun dalam waktu ke depan. Proyeksi tersebut muncul bukan hanya karena pelemahan indikator ekonomi, tetapi juga karena desakan Presiden AS yang dinilai berupaya mendorong pelonggaran moneter untuk menopang perekonomian domestik.
