Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Pasar keuangan domestik dihantam badai sentimen negatif pada pembukaan perdagangan Rabu (28/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau anjlok tajam ke level 8.393 setelah pengelola indeks global, MSCI, mengumumkan kebijakan mendadak terkait pasar modal Indonesia.
MSCI secara resmi membekukan sementara perubahan indeks yang melibatkan saham-saham asal Indonesia. Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran investor global atas transparansi data kepemilikan saham serta aspek investabilitas pasar.
"Akibatnya, IHSG berkemungkinan akan terus berjibaku di zona merah sepanjang hari ini," ungkap Ekonom UISU Gunawan Benjamin, di Medan.
Meski IHSG tertekan, mata uang Rupiah menunjukkan performa positif. Rupiah ditransaksikan menguat ke level 16.730 per dolar AS, didorong oleh indeks dolar (DXY) yang terpuruk ke kisaran 95.
"Sepanjang hari ini, Rupiah berpeluang bergerak dalam rentang 16.650 hingga 16.770 per dolar AS," kata Gunawan.
Saat ini, menurut dia, pelaku pasar global tengah mengalihkan fokus pada pidato Presiden AS untuk mencari kepastian arah kebijakan ekonomi. Di sisi lain, tercapainya kesepakatan dagang antara India dan Uni Eropa menjadi variabel baru yang dipantau ketat oleh investor di pasar berkembang.
Berbanding terbalik dengan bursa saham, harga emas justru terbang tinggi. Di pasar dunia, harga emas meroket ke level $5.166 hingga $5.185 per ons troy.
Kondisi ini membawa harga emas domestik menyentuh rekor fantastis di kisaran Rp2,8 juta per gram.
Lonjakan harga emas sebagai aset aman (safe haven) dipicu oleh memburuknya tensi geopolitik dan ancaman kenaikan tarif dagang AS terhadap Korea Selatan.
Selain itu, data indeks kepercayaan konsumen AS yang merosot ke level 84,5 turut memperburuk ekspektasi ekonomi global.
