Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga emas dunia mencatat rekor tertinggi pada level $5.530 per ons troy atau setara Rp3 juta per gram di pasar domestik. Lonjakan drastis ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta kebijakan suku bunga bank sentral.
"Sentimen perang antara AS dan Iran menjadi motor utama yang membuat harga emas naik tak terbendung pada perdagangan hari ini," ujar Ekonom UISU, Gunawan Benjamin, Kamis (29/1).
Kenaikan komoditas safe haven ini semakin kokoh setelah The Fed memutuskan untuk mempertahankan besaran suku bunga acuannya. Investor memburu emas karena meyakini penurunan bunga acuan tetap akan direalisasikan otoritas moneter tersebut dalam tahun ini.
Situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian ini diperkirakan masih akan menjaga tren penguatan harga emas ke depan.
Kondisi itu berbanding terbalik dengan kinerja pasar modal yang justru mengalami keterpurukan sangat dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhempas hingga 8% yang memicu diberlakukannya kebijakan penghentian perdagangan sementara atau trading halt.
Pelemahan IHSG tersebut disebabkan oleh penundaan rebalancing indeks MSCI di tengah koreksi masif bursa saham Asia. Mata uang Rupiah juga terpantau melemah ke posisi Rp16.795 per dolar AS akibat penguatan indeks dolar global.
Kenaikan imbal hasil US Treasury turut menekan nilai tukar mata uang Garuda pada awal sesi perdagangan hari ini.
