Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Penguatan dolar Amerika Serikat menekan pergerakan harga emas dunia bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar global. Kondisi tersebut tercermin pada perdagangan pagi, Jumat (9/1), ketika emas bergerak terbatas sementara rupiah kembali terdepresiasi terhadap dolar AS.
Penguatan dolar ditopang data ekonomi Amerika Serikat, khususnya klaim pengangguran mingguan yang naik dari 200 ribu menjadi 208 ribu. Angka itu masih lebih rendah dari ekspektasi pasar di level 213 ribu, sehingga dinilai belum mencerminkan pelemahan signifikan pada pasar tenaga kerja AS.
"Sentimen tersebut membuat bursa saham di Amerika Serikat dan Asia relatif stabil tanpa tekanan berarti," ungkap Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin, di Medan.
Dia mengatakan, penguatan dolar global masih menjadi faktor utama yang membebani rupiah dan menahan laju emas. Kinerja USD Index yang menguat membuat rupiah dan harga emas bergerak lebih terbatas meski tekanan ekonomi global belum sepenuhnya mereda.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi tertekan di level 16.820 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring penguatan USD Index yang naik ke kisaran 98,93, sehingga memberi tekanan tambahan bagi aset berdenominasi rupiah.
Penguatan dolar tersebut turut membatasi ruang gerak emas. Di pasar Asia, harga emas berada di kisaran 4.475 dolar AS per ons troy, lebih rendah dibandingkan perdagangan pasar Amerika yang sempat menyentuh 4.485 dolar AS per ons troy. Meski demikian, secara harian emas masih mencatatkan kenaikan dibandingkan sesi sebelumnya.
Di pasar domestik, harga emas diperdagangkan di kisaran Rp2,43 juta per gram. Pergerakan emas ke depan masih sangat dipengaruhi dinamika dolar AS, rilis data ekonomi lanjutan, serta arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.
Di dalam negeri, pelaku pasar menanti rilis indeks kepercayaan konsumen yang dinilai berpeluang memberi arah baru bagi pasar keuangan nasional. Sebelumnya, data penjualan kendaraan bermotor menunjukkan peningkatan 14,5% secara tahunan, yang menjadi sentimen positif bagi pasar saham.
Sejumlah data domestik tersebut mendorong Indeks Harga Saham Gabungan dibuka menguat di level 8.969 pada sesi pagi. Namun pergerakan IHSG masih dibayangi potensi koreksi seiring bursa saham Asia yang bergerak mixed meski cenderung menguat.
