Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Nilai tukar rupiah kembali melemah di tengah memburuknya sentimen global yang menekan pasar keuangan domestik. Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan penurunan harga emas dunia.
Rupiah pada penutupan perdagangan, Kamis (8/1), ditransaksikan melemah ke level 16.785 per dolar AS. Pelemahan ini muncul meski cadangan devisa Indonesia justru meningkat menjadi 156,5 miliar dolar AS pada Desember.
Tekanan rupiah berjalan seiring dengan koreksi IHSG yang ditutup melemah 0,22% ke level 8.925,471. Indeks sempat menembus level psikologis 9.000 hingga menyentuh 9.002 sebelum berbalik arah dan ditutup di zona merah.
Pelemahan IHSG dipicu aksi ambil untung setelah reli sebelumnya. Sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti NCKL, INCO, ANTM, TINS, dan BUMI menjadi penekan utama pergerakan indeks.
Saham sektor energi tercatat sebagai sektor dengan koreksi terdalam pada perdagangan hari ini. Tekanan tersebut tidak terlepas dari memburuknya kinerja mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang bergerak negatif.
Menurut Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin, tekanan pasar keuangan domestik saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen eksternal dibandingkan faktor fundamental dalam negeri.
“Geopolitik global masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan rupiah dan pasar keuangan nasional,” katanya di Medan.
Ia menilai rilis data ekonomi, termasuk peningkatan cadangan devisa, belum mampu menjadi penopang pergerakan pasar. Ketidakpastian global membuat pelaku pasar cenderung mengabaikan data ekonomi yang seharusnya menjadi rujukan investasi.
Pelaku pasar masih mencermati perkembangan politik dan geopolitik dunia yang dinilai memperbesar risiko ekonomi ke depan. Kondisi tersebut mendorong sikap hati-hati investor di pasar saham maupun pasar valuta asing.
Tekanan juga terlihat di pasar komoditas. Harga emas dunia terpantau turun ke kisaran 4.420 dolar AS per ons troy. Di pasar domestik, emas masih diperdagangkan di sekitar 2,39 juta rupiah per gram.
Meski terkoreksi, secara fundamental emas dinilai masih memiliki peluang menguat dalam jangka pendek. Ketidakstabilan global tetap menjadikan emas sebagai aset lindung nilai yang diburu investor.
