google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 PREDIKSI MARKET: Meski Kerek Emas, Agenda Bank Sentral Global akan Tekan IHSG dan Rupiah

Advertisement

PREDIKSI MARKET: Meski Kerek Emas, Agenda Bank Sentral Global akan Tekan IHSG dan Rupiah

19 Januari 2026

 

Ilustrasi.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Agenda kebijakan bank sentral global sepanjang pekan ini diperkirakan menekan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), melemahkan nilai tukar Rupiah, serta mendorong harga emas dunia melanjutkan rekor tertingginya. Sentimen tersebut muncul di tengah padatnya rilis data ekonomi dan keputusan moneter dari China, Indonesia, Amerika Serikat, hingga Jepang.


Perdagangan Senin (19/1/2026), dibuka dengan rilis data pertumbuhan ekonomi atau gross domestic product (GDP) China yang menjadi acuan awal arah pasar Asia. Pada Selasa, pelaku pasar menunggu keputusan kebijakan moneter Bank Sentral China atau People’s Bank of China (PBoC) terkait penetapan suku bunga pinjaman.


Tekanan berlanjut pada Rabu saat Bank Indonesia mengumumkan kebijakan suku bunga acuannya di tengah kondisi nilai tukar yang masih rentan.


“Padatnya agenda bank sentral global membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati, sehingga aset berisiko seperti saham berpotensi tertekan,” kata Gunawan Benjamin, Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara, di Medan.


Tekanan eksternal berlanjut pada Kamis dengan rilis sejumlah data penting dari Amerika Serikat. Salah satunya adalah data pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga yang diproyeksikan tumbuh di kisaran 4% secara kuartalan.


Data tersebut menjadi perhatian karena berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat di AS. Agenda ekonomi global pekan ini ditutup pada Jumat dengan pengumuman kebijakan moneter Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BoJ).


Di pasar regional, bursa saham Asia bergerak mixed dengan kecenderungan melemah sejak awal pekan. Di dalam negeri, IHSG sempat dibuka menguat di level 9.098, namun pergerakannya berbalik dan bertahan di zona merah.


Pada saat yang sama, nilai tukar Rupiah melemah dan ditransaksikan di kisaran 16.900 per dolar AS. Kombinasi pelemahan bursa Asia dan tekanan Rupiah yang mendekati level psikologis 17.000 diperkirakan membebani pergerakan IHSG sepanjang sesi perdagangan.


Di sisi lain, harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi baru di kisaran US$4.661 per ons troy atau sekitar Rp2,51 juta per gram. Kenaikan emas dipicu meningkatnya ketegangan dagang setelah Amerika Serikat merencanakan kenaikan tarif impor terhadap Eropa, menyusul persitegangan kedua pihak terkait isu aneksasi wilayah Greenland.