Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Nilai tukar rupiah diprediksi akan mengalami tekanan hebat sepanjang perdagangan hari ini. Kombinasi antara penantian pasar terhadap kebijakan Federal Reserve serta ketidakpastian sentimen geopolitik global menjadi faktor utama.
Kedua sentimen itu berpotensi menekan mata uang Garuda ke level Rp16.795 per dolar AS. Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, memproyeksikan kurs rupiah akan bergerak fluktuatif dalam rentang sensitif.
"Rupiah berpotensi dalam kisaran Rp16.770 hingga Rp16.830 per dolar AS pada hari ini," ungkapnya di Medan, Selasa (27/1/2026).
Pelemahan ini terjadi seiring dengan sikap pelaku pasar yang cenderung defensif menanti rilis kebijakan Federal Reserve. Menurut Gunawan, kebijakan moneter Bank Sentral AS selalu menjadi acuan yang terukur bagi pasar.
Namun ketidakpastian arah suku bunga kali ini justru memicu aksi jual pada aset berisiko di pasar domestik. Termasuk membebani IHSG ke level psikologis 8.900.
Di sisi lain, sentimen geopolitik global yang terus memanas menambah beban bagi mata uang negara berkembang. Berbeda dengan kebijakan moneter yang lebih terprediksi, tensi geopolitik memicu kepanikan yang sulit ditafsirkan pengaruhnya secara teknis.
"Memburuknya tensi geopolitik memicu kepanikan investor yang kemudian beralih ke aset safe haven," terang dia.
Hal itu terlihat dari harga emas dunia yang bertahan di level tinggi $5.066 per ons troy.
Kondisi geopolitik membuat investor meninggalkan mata uang yang dianggap berisiko dan memilih mengamankan aset. Akibatnya, posisi rupiah semakin terhimpit di tengah gejolak pasar global.
