Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga emas dunia diprediksi segera menembus level psikologis US5.000 per ons troy di tengah tren penguatan harga yang terus berlanjut. Pada perdagangan Jumat (23/1/2026) pagi, harga emas spot telah melonjak ke kisaran US4.955 per ons troy akibat eskalasi ketidakpastian global.
Peningkatan harga ini dipicu oleh tertahannya ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS). Rilis data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi inti AS masih stabil, sehingga ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat kembali menyempit.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kondisi ketidakpastian global masih memberi ruang luas bagi penguatan emas sebagai aset lindung nilai utama.
“Selama ketidakpastian suku bunga dan geopolitik belum mereda, emas masih berpotensi melanjutkan kenaikan,” ujar Gunawan.
Di pasar domestik, harga emas saat ini sudah menyentuh kisaran Rp2,7 juta per gram jika dikonversi ke rupiah. Komoditas logam mulia ini diperkirakan tetap bergerak lebih tinggi dalam jangka pendek seiring tingginya minat investor.
Sebaliknya, kondisi pasar modal justru tertekan di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke level 8.868 atau titik terendah tahun ini. Pelemahan IHSG terjadi saat pelaku pasar mencermati proses seleksi Gubernur Bank Sentral AS yang menambah ketidakpastian moneter.
Sementara itu, indikator makro lainnya menunjukkan imbal hasil US Treasury 10 tahun bergerak stagnan di level 4,25%. Nilai tukar rupiah terpantau menguat ke posisi Rp16.845 per dolar AS meskipun pasar cenderung bersikap wait and see.
