Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menembus level psikologis 9.000 pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (14/1). Namun kembali bergerak fluktuatif dan turun ke bawah level tersebut.
Pergerakan IHSG dinilai masih seirama dengan mayoritas bursa saham Asia yang cenderung menguat, tetapi bergerak beragam di tengah sentimen global yang belum solid.
IHSG dibuka menguat di level 9.021 pada awal sesi perdagangan. Namun, tekanan jual yang muncul setelahnya membuat indeks kembali berbalik arah dan bergerak di bawah level psikologis 9.000.
"Fluktuasi ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar meski sentimen eksternal relatif mendukung," ungkap Ekonom UISU Gunawan Benjamin, di Medan.
Dia menilai pergerakan IHSG saat ini masih sangat dipengaruhi dinamika pasar regional Asia. Menurut dia, arah bursa Asia yang mixed membuat IHSG sulit menjaga penguatan secara konsisten meski sempat mencatatkan level tertingginya di awal perdagangan.
Sentimen utama pasar keuangan global saat ini berasal dari rilis data inflasi Amerika Serikat. Inflasi AS pada Desember tercatat sebesar 0,3% secara bulanan dan 0,7% secara tahunan.
Sementara itu, inflasi inti AS tercatat 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan, atau lebih rendah 0,1% dari ekspektasi pasar. Data tersebut masih membuka ruang spekulasi bahwa Bank Sentral AS, The Federal Reserve, berpeluang melonggarkan kebijakan moneternya melalui pemangkasan suku bunga.
Namun di sisi lain, rilis inflasi tersebut justru mendorong penguatan indeks Dolar AS ke atas level 99,29. Penguatan Dolar AS berdampak terbatas pada pasar domestik.
Adapun nilai tukar Rupiah terpantau relatif stabil di kisaran 16.860 per Dolar AS. Meski tekanan eksternal masih membayangi pergerakan mata uang negara berkembang.
Di tengah dinamika tersebut, harga emas dunia melanjutkan penguatan. Emas ditransaksikan di level US$4.618 per ons troy atau sekitar Rp2,51 juta per gram.
Kenaikan harga emas mencerminkan tingginya permintaan aset aman. Seiring ketidakpastian arah kebijakan moneter global dan tensi geopolitik yang masih berlanjut.
Gunawan menilai kombinasi spekulasi kebijakan The Fed dan risiko geopolitik global masih akan menjadi faktor pendukung harga emas. Sekaligus memicu pergerakan pasar saham yang cenderung fluktuatif di awal 2026.
