Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga emas dunia mulai kehilangan tenaga di tengah tensi geopolitik global yang belum mereda. Pelemahan ini terjadi seiring aksi ambil untung pelaku pasar setelah reli tajam harga emas dalam beberapa waktu terakhir, meski ketidakpastian global masih tinggi.
Pada akhir perdagangan Rabu (7/1), harga emas terpantau melemah tipis di kisaran US$4.464 per ons troi. Tekanan muncul saat pelaku pasar memilih mengamankan keuntungan sembari menunggu arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Khususnya jelang rilis data ketenagakerjaan yang dinilai krusial bagi pasar keuangan global. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan pergerakan pasar saham domestik yang relatif terbatas.
Adapun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dalam rentang sempit di kisaran 8.916 hingga 8.970 sebelum ditutup menguat 0,13% di level 8.944,813. Penguatan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia, meski pergerakannya lebih banyak dipengaruhi sentimen teknikal karena minimnya katalis ekonomi baru.
Di sisi lain, penguatan dolar Amerika Serikat turut menekan pasar keuangan domestik. Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level 16.770 per dolar AS, seiring penguatan indeks dolar pada sesi perdagangan Asia.
Tekanan pada rupiah menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan IHSG, sekaligus menahan laju aset berisiko. Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai pelemahan emas lebih disebabkan oleh faktor teknikal ketimbang perubahan fundamental.
“Harga emas saat ini mengalami aksi ambil untung setelah kenaikan yang cukup signifikan, sementara pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan The Fed dari data ekonomi AS,” ujarnya di Medan.
Menurut Gunawan, jika data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan, spekulasi pemangkasan suku bunga acuan berpeluang menguat. Kondisi itu dapat menjadi sentimen positif bagi pasar saham dan mata uang, termasuk IHSG dan rupiah.
Namun, ia mengingatkan bahwa memanasnya tensi geopolitik kerap membuat respons pasar terhadap data ekonomi menjadi tidak konsisten. Dalam situasi tertentu, faktor geopolitik justru lebih dominan dibandingkan rilis data makro, sehingga volatilitas pasar keuangan diperkirakan masih akan berlanjut.
