Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Nilai tukar Rupiah berpeluang kembali tertekan meski Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%. Kebijakan moneter itu sempat mendorong penguatan Rupiah hingga ke level 16.895 per dolar AS pada perdagangan pagi ini.
“Penahanan suku bunga memang memberi ruang penguatan jangka pendek, tetapi tekanan global masih sangat besar sehingga Rupiah rentan terkoreksi lagi,” kata Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin, Kamis (22/1/2026).
Keputusan BI menahan suku bunga dinilai mampu meredam tekanan dolar AS dalam jangka pendek. Dampak kebijakan itu terlihat pada penguatan Rupiah setelah sempat berada di bawah tekanan pada sesi sebelumnya.
Namun tekanan terhadap Rupiah kembali membesar seiring memburuknya sentimen global. Peningkatan tensi geopolitik dan menguatnya isu perang dagang memicu kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS tersebut menjadi faktor penekan bagi mata uang negara berkembang. Arus modal global cenderung kembali ke aset dolar AS di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kondisi pasar global yang belum stabil membuat pergerakan Rupiah tetap fluktuatif. Nilai tukar diperkirakan akan bergerak sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
Di pasar saham, IHSG justru mampu bergerak menguat pada pembukaan perdagangan Kamis pagi. IHSG dibuka di level 9.052 seiring penguatan mayoritas bursa saham Asia.
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG sempat tertekan akibat pencabutan izin usaha sejumlah perusahaan. Sentimen tersebut memberi dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja sejumlah emiten di lantai bursa.
Pelaku pasar masih mencermati dinamika hubungan dagang AS dan Eropa. Ketegangan tersebut sebelumnya dipicu isu geopolitik yang meluas dan menekan pasar keuangan global.
Dalam beberapa hari terakhir, ketegangan itu mulai mereda dan memberi sentimen positif terbatas. Kondisi tersebut membantu stabilisasi sementara di pasar saham dan komoditas.
Di sisi lain, harga emas dunia sempat menyentuh level tertinggi di kisaran 4.887 dolar AS per ons troy. Harga tersebut kemudian terkoreksi ke area 4.785 dolar AS pada sesi perdagangan Asia.
Harga emas domestik saat ini bergerak di kisaran Rp2,6 juta per gram. Tekanan jual muncul setelah reli tajam emas pada perdagangan sebelumnya.
