Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Nilai tukar Rupiah menunjukkan keperkasaannya di tengah dinamika geopolitik global dan fluktuasi harga komoditas. Pada penutupan perdagangan Jumat (23/1), mata uang Garuda parkir di level Rp16.810 per dolar AS, menguat tipis di tengah spekulasi kebijakan moneter longgar Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, penguatan Rupiah kali ini lebih didorong oleh sentimen eksternal.
"Di tengah minimnya sentimen pasar domestik, spekulasi mengenai pemangkasan suku bunga acuan The Fed tahun ini menjadi katalis positif utama bagi Rupiah," ujarnya, di Medan.
Meski data inflasi AS dirilis sesuai ekspektasi, jelas dia, ketidakpastian kepemimpinan di pucuk pimpinan Bank Sentral AS tetap memberikan ruang bagi aset-aset emerging markets.
Di sisi lain, harga emas global sempat melambung mendekati level psikologis
per ons troy sebelum akhirnya terkoreksi ke level per ons troy atau sekitar Rp2,7 juta per gram pada sore hari.
Gunawan menambahkan, tensi geopolitik terkait ambisi AS terhadap Greenland mulai mereda setelah Presiden Donald Trump melunakkan sikap melalui skema kesepakatan dengan NATO. Hal ini direspon positif oleh pemimpin Eropa, meski Denmark tetap bersikeras pada kedaulatan wilayah tersebut.
"Pasar masih wait and see menanti detail kesepakatan AS-NATO. Jika tensi kembali memanas, emas akan kembali diburu sebagai safe haven yang berpeluang menekan mata uang berisiko," tambah Gunawan.
Kondisi berbeda justru terjadi di pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal keluar dari tekanan jual dan ditutup melemah 0,46% ke level 8.951,01. Pelemahan IHSG ini berbanding terbalik dengan mayoritas bursa saham Asia yang justru bergerak di zona hijau.
Menurut Gunawan, aksi ambil untung (profit taking) investor domestik menjadi pemberat utama indeks di saat sentimen global cenderung bercampur.
