Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Nilai tukar Rupiah kembali melemah dan bergerak mendekati level 17.000 per dolar AS akibat tekanan sentimen global serta kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan defisit APBN. Pada penutupan perdagangan Senin (19/1/2026), Rupiah ditransaksikan di level 16.935 per dolar AS, setelah bergerak di kisaran 16.920–16.945 sepanjang sesi.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengatakan pelemahan Rupiah dipicu kombinasi tekanan eksternal dan sikap pasar yang semakin berhati-hati terhadap kondisi fiskal domestik.
"Pasar masih dibayangi sentimen global dan kekhawatiran defisit APBN yang berlanjut, sehingga Rupiah rentan tertekan mendekati 17.000," ujarnya, di Medan.
Tekanan terhadap Rupiah terjadi di tengah beragamnya pergerakan pasar regional Asia. Sejumlah bursa Asia ditutup bervariasi dengan kecenderungan melemah, seiring respons pelaku pasar terhadap data ekonomi global.
Salah satu sentimen utama datang dari China setelah rilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal IV yang menunjukkan pertumbuhan 4,5% secara kuartalan. Lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 4,8%.
Perlambatan tersebut memperkuat persepsi pasar terhadap melambatnya ekonomi global. Namun di dalam negeri, pelemahan Rupiah tidak sepenuhnya sejalan dengan kinerja pasar saham.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang sempat terkoreksi hingga level 9.025 pada sesi pertama. Namun berbalik menguat pada sesi kedua dan ditutup naik 0,64% di level 9.133,873.
Penguatan IHSG ditopang saham perbankan berkapitalisasi besar, seperti BBCA, BBRI, BBNI, BMRI, dan BBYB. Sementara itu, harga emas dunia tetap bergerak menguat dan mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai.
Pada perdagangan sore, emas ditransaksikan di kisaran US$4.663 per ons troy atau sekitar Rp2,55 juta per gram. Kenaikan harga emas terjadi di tengah pelemahan mata uang dan meningkatnya ketidakpastian global.
Gunawan menilai selama tekanan global dan kekhawatiran fiskal belum mereda, pergerakan Rupiah masih akan berada dalam tren rentan. Meski pasar saham domestik menunjukkan ketahanan dalam jangka pendek.
