google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Ketidakpastian Global Dorong Investor Borong Emas, Harga Terus Melejit

Advertisement

Ketidakpastian Global Dorong Investor Borong Emas, Harga Terus Melejit

06 Januari 2026

 

Ilustrasi.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Memanasnya tensi geopolitik global mendorong harga emas dunia terus melesat dan menekan kinerja rupiah. Kondisi ini terjadi di tengah pergerakan pasar saham yang relatif stabil dan minim sentimen ekonomi baru di kawasan Asia.


Harga emas dunia pada perdagangan terbaru bergerak naik ke level sekitar 4.453 dolar AS per ons troy, atau setara sekitar Rp 2,4 juta per gram. Kenaikan harga emas dipicu meningkatnya permintaan aset aman seiring kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian ekonomi global akibat eskalasi geopolitik.


Investor memilih mengakumulasi emas sebagai lindung nilai di tengah risiko yang membesar. Kenaikan emas mencerminkan sikap defensif investor di tengah ketidakpastian global.


"Selama tensi geopolitik belum mereda, emas berpeluang tetap berada dalam tren penguatan," ungkap Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin, di Medan, Selasa (6/1).


Tekanan geopolitik juga menurutnya memengaruhi pasar keuangan domestik. Nilai tukar rupiah pada sesi perdagangan pagi bergerak melemah tipis di kisaran 16.740 per dolar AS.


Rupiah masih berada di bawah tekanan meski pelemahan relatif terbatas. Pergerakan rupiah diperkirakan cenderung sideways dengan peluang menguat terbatas di rentang 16.720 hingga 16.755 per dolar AS.


Stabilnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun di level 4,173% menahan tekanan yang lebih dalam terhadap rupiah.


Begitu juga dengan pelemahan indeks dolar AS ke kisaran 98,32. Namun sentimen global masih menjadi faktor dominan dalam menentukan arah pergerakan mata uang.


Di sisi lain, pasar saham Asia pada perdagangan pagi mayoritas bergerak menguat. Indeks Harga Saham Gabungan dibuka naik di level 8.890.


Minimnya rilis data ekonomi di kawasan Asia membuat IHSG bergerak mengikuti pola bursa regional dalam rentang 8.830 hingga 8.930. Dari Amerika Serikat, data ISM Manufacturing Desember tercatat turun ke level 47,9 dari sebelumnya 48,3.


Pelemahan sektor manufaktur tersebut tidak memicu koreksi di bursa saham AS. Pasar saham global juga masih ditopang sentimen geopolitik yang menghangat.