Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - IHSG dan harga emas diproyeksikan bertahan di zona hijau pada perdagangan hari ini, Kamis (15/1). Sementara nilai tukar Rupiah bergerak terkoreksi tipis di tengah minimnya sentimen ekonomi baru.
Pergerakan pasar domestik masih seirama dengan bursa saham Asia yang ditransaksikan bervariasi dengan kecenderungan menguat. IHSG dibuka menguat di level 9.072 dan bertahan di atas level psikologis 9.000 pada awal sesi perdagangan.
Penguatan ini mencerminkan masih kuatnya minat pelaku pasar untuk mengakumulasi saham. Meski potensi aksi ambil untung tetap membayangi setelah reli beruntun dalam beberapa hari terakhir.
Sepanjang hari ini, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 8.970 hingga 9.050. Animo beli dinilai masih terjaga selama indeks mampu bertahan di atas level psikologis tersebut.
Namun, pelaku pasar cenderung lebih selektif mengingat belum adanya katalis ekonomi baru yang signifikan, baik dari dalam negeri maupun global. Di pasar valuta asing, Rupiah pada sesi perdagangan pagi ditransaksikan melemah tipis di kisaran 16.865 per dolar AS.
Koreksi ini terjadi meskipun imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun dan indeks dolar AS menunjukkan kecenderungan melemah. Kondisi tersebut membuka ruang bagi Rupiah untuk bergerak lebih stabil dengan potensi penguatan terbatas.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin menilai Rupiah masih memiliki peluang bergerak di rentang 16.830 hingga 16.870 per Dolar AS.
"Dengan minimnya sentimen ekonomi, Rupiah diproyeksikan tidak bergerak jauh dari level penutupan sebelumnya,” ujarnya, di Medan.
Sementara itu, harga emas dunia pada perdagangan pagi mengalami koreksi tipis, namun tetap bertahan di atas level psikologis 4.600 Dolar AS per ons troi. Hingga pagi tadi emas ditransaksikan di kisaran 4.612 Dolar AS per ons troi atau sekitar Rp2,5 juta per gram.
Stabilnya harga emas mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar di tengah terbatasnya sentimen baru. Dalam kondisi tersebut, emas diperkirakan bergerak stabil dan bertahan di level tinggi sebagai aset lindung nilai, seiring pasar menanti arah kebijakan ekonomi global selanjutnya.
