google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 IHSG Bangkit di Akhir Sesi, Emas Terus Menguat di Tengah Tensi Global

Advertisement

IHSG Bangkit di Akhir Sesi, Emas Terus Menguat di Tengah Tensi Global

13 Januari 2026

 

Ilustrasi.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bangkit pada menit-menit terakhir perdagangan. Selasa (13/1), dan ditutup menguat. Sementara harga emas dunia melanjutkan tren kenaikan di tengah tensi global yang belum mereda.


Penguatan IHSG terjadi seiring membaiknya kinerja mayoritas bursa saham Asia, sedangkan emas tetap diminati sebagai aset lindung nilai. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang lebar 8.841 hingga 8.956 setelah sempat tertekan cukup dalam pada sesi kedua.


Tekanan jual mereda menjelang penutupan sehingga indeks mampu berbalik menguat pada akhir sesi. Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi penopang utama IHSG, di antaranya ADRO, BBRI, ANTM, ASII, dan TLKM.


Di sisi lain, tekanan datang dari saham-saham seperti BUMI, BRPT, MEDC, BULL, dan RATU yang membebani pergerakan indeks sepanjang hari. Gunawan Benjamin, Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), menilai penguatan IHSG di akhir sesi mencerminkan respons selektif pelaku pasar terhadap sentimen global yang masih dinamis.


"Penguatan di penutupan menunjukkan minat beli masih ada, meski tekanan eksternal seperti penguatan dolar dan yield AS membuat pasar bergerak lebih hati-hati," ujarnya, di Medan.


Kinerja IHSG pada perdagangan berlangsung di tengah tekanan nilai tukar Rupiah. Mata uang Garuda ditutup melemah di level 16.860 per dolar AS, seiring kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun ke level 4,169% dan penguatan indeks dolar AS di kisaran 98,9.


Kondisi tersebut membatasi ruang penguatan IHSG meski sentimen regional cenderung positif. Sedangkan di luar pasar saham, harga emas dunia kembali menguat dan ditransaksikan di kisaran 4.590 dolar AS per ons troy atau sekitar 2,5 juta rupiah per gram.


Emas bergerak stabil di dekat level psikologis 4.600 dolar AS, didukung ketidakpastian global dan tekanan terhadap bank sentral Amerika Serikat. Secara fundamental, emas masih menarik di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan fluktuasi kebijakan moneter global.


"Kondisi tersebut menjaga minat investor terhadap emas, meski pasar keuangan global bergerak volatil," pungkas Gunawan.