Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga gula pasir di Sumatra Utara mengalami kenaikan hingga Rp750 per kilogram. Namun harga diperkirakan kembali turun menjelang Ramadan seiring bertambahnya pasokan dari produksi lokal.
Kenaikan terjadi di sejumlah pasar di Kota Medan dalam sepekan terakhir. Namun kondisi ini dinilai bersifat sementara dan tidak mengarah pada lonjakan berkepanjangan.
Pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) menunjukkan harga gula pasir di Medan naik dalam rentang Rp250 hingga Rp750 per kilogram. Di Pasar Brayan, harga yang sebelumnya sekitar Rp17.250 per kilogram kini menjadi sekitar Rp18.000 per kilogram.
Kenaikan serupa juga tercatat di Pasar Petisah, Pasar Aksara, dan Pusat Pasar, dengan besaran kenaikan bervariasi antara Rp250 hingga Rp500 per kilogram.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengatakan kenaikan harga gula tidak terlepas dari pelemahan nilai tukar rupiah serta potensi gangguan pasokan dalam negeri. Menurut dia, dua pabrik gula di Sumut, yakni Sei Semayang dan Kuala Madu, akan mulai berproduksi pada akhir Januari sehingga pasokan gula pasir saat ini berada di fase terendah.
“Potensi harga gula pasir kembali normal bahkan turun cukup besar dalam waktu dekat sangat terbuka, sehingga konsumen tidak perlu khawatir dengan kenaikan harga saat ini,” katanya.
Ia memperkirakan tambahan pasokan akan mulai terasa dalam beberapa bulan ke depan dan menahan kenaikan harga lebih lanjut. Meski harga naik dalam sepekan terakhir, potensi kenaikan diperkirakannya sudah terhenti.
Kenaikan harga cabai justru berpeluang terjadi menjelang Ramadan akibat menurunnya produksi di salah satu sentra utama di Kabupaten Batubara. Sumut diperkirakan kehilangan pasokan hingga 80 ton per hari pada Februari.
Sementara itu, harga beras akan bergerak stabil karena memasuki musim panen raya pada Januari. Begitu juga dengan harga minyak goreng, meski harga CPO global meningkat.
Untuk komoditas protein, pasokan daging ayam dan daging sapi dinilai masih mampu disesuaikan dengan permintaan. Gunawan menilai pasokan pangan di Sumut relatif terkendali, setidaknya hingga Maret atau menjelang Idulfitri.
"Selama tidak terjadi gangguan cuaca ekstrem atau lonjakan biaya produksi," pungkasnya.
